oleh

Bertaruh Nyawa, Guru Pranten Bawang Susuri Sungai Akibat Jalan Curam dan Licin

-BATANG, PENDIDIKAN-Dibaca 496 Kali
Laporan Wartawan Muhammad Ali Arifin – Suara Merdeka

PORTALBATANG.COM, Bawang – Sebagian guru SD Pranten 01, 03, Bintoro Mulyo, dan SMP 4 Bawang yang semuanya ada di wilayah Desa Pranten, Bawang, Batang, kembali berjalan kaki menyusuri lembah dan ngarai, menyeberangi sungai, dan mendaki bukit dengan kemiringan sekitar 60 derajat untuk bisa sampai ke tempat kerjanya.

Hal itu mereka lakukan karena curah hujan yang tinggi di kawasan Pegunungan Dieng, sehingga menyebabkan sebagian tanjakan dan turunan yang curam di jalur baru Bawang-Dieng via Dukuh Pranten dan Dukuh Rejosari, Desa Pranten, licin.

Beberapa hari lalu, TU SMP 4 Bawang, Yayat Abdullah, yang naik motor Kawasaki KLX jatuh saat berusaha naik di salah tanjakan yang curam. “Terpaksa tidak masuk kerja, karena jatuhnya lumayan sakit,” katanya, Jumat (24/2).

BACA JUGA  GEGER !! Penampakan Pocong di Hutan Kota Rajawali BATANG

Kepala SMP 4 Bawang Mustaghfirin menyatakan, karena motornya adalah Honda CS-1, maka dia lebih memilih menitipkan motornya di SD Pranten 02 yang lokasinya masih terjangkau sepeda motor, yakni di Dukuh Pranten.

Guru Pranten Bawang
Para Guru SMP N 4 Bawang Susuri Sungai Demi Mengajar. (Photo : Suara Merdeka)

“Setelah menitipkan motor, saya dan teman-teman guru ya ke sekolah jalan kaki. Menyusuri lembah, ngarai, menyeberangi sungai, dan naik ke atas bukit dengan kemiringan 60 derajat. Ini cara yang lebih aman, dibanding nekat naik motor,” jelasnya.

Dia menambahkan, di saat hujan, jika para guru yang naik Kawasaki KLX berani mengendarai motornya sampai ke sekolah masing-masing, itu pun harus dengan perjuangan. “Ban motor yang kotak-kotak tahu itu harus dikurangi anginnya. Kondisi ban harus setengah kempis, sehingga lebih mencengkeraman batu-batu yang licin saat diguyur gerimis ataupun hujan.”

Para Guru Pranten Bawang Memodifikasi Motor

Beberapa guru di Pranten ada yang kreatif memodifikasi motor standarnya, baik itu jenis bebek atau motor laki mirip trail Kawasaki KLX. Seperti dilakukan Abdurrahman dan Dwi Pujiyanti.

“Belum cukup rezeki untuk membeli KLX ya motor saya modifikasi mirip trail. Yang penting ban depan dan belakang sudah ban pacul atau ban kotak-kotak tahu, sehingga lebih mudah menanjak atau menuruni medan yang curam dan licin,” jelas Dwi.

Namun Dwi mengaku lebih sering minta bantuan teman-teman sesama guru yang laki-laki untuk melewati turunan atau tanjakan yang curam. “Motor dibawa teman saat turunan atau tanjakan curam. Saya jalan kaki.”

BACA JUGA  Kurangi Angka Kecelakaan, Polsek Gringsing Peduli Tata Tertib Lalu Lintas

Sebenarnya, menurut Mustaghfirin, durasi perjalanan dari Bawang ke Pranten antara naik motor dan jalan kaki tidak terpaut banyak. Yakni sekitar 15-20 menit. “Karena sudah terbiasa, jika tidak hujan, saya naik motor dari rumah di Bawang ke SMP 4 di Pranten sekitar 45 menit. Jika jalan kaki ya sekitar 1 jam, karena memotong jalur,” ujarnya.

Bagi Mustaghfirin dan teman-teman sesama guru yang bertugas di wilayah terpecil dan tersulit dari segi medan jalan, itu antara naik motor dan jalan kaki ke tempat kerja tidak begitu dipermasalahkan. “Kalau hujan ya jalan kaki. Ya, anggap saja berangkat kerja sambil olah raga. Kalau tidak hujan ya naik motor, tapi tetap harus ekstra hati-hati, karena medan jalannya memang ekstrem.” (*)

Suara Merdeka / Portal Batang

Loading...

Komentar

Index Berita