Getuk Bokong, Nama Aneh Rasa Mantab Asli dari Bawang Batang

oleh
Getuk Bokong
Getuk Bokong asli Bawang Batang

KULINER – Nih satu lagi makanan khas dari Kabupatan Batang yang mulai di promosikan ke publik, Getuk Bokong Kalau untuk mendengar namanya mungkin terlalu aneh untuk nama jenis makanan, namun itu benar terjadi pada makanan Getuk bokong atau dalam bahasa Indonesia yaitu memiliki arti getuk pantat.

Kuliner makanan rakyat lereng gunung prahu Desa Wonosari Kecamatan Bawang memiliki keanehan namanya dan keunikan dalam proses pembuatannya

Cara Membuat Getuk Bokong sangat rumit

Makanan dengan bahan dasar singkong tersebut cukup memakan waktu dan energi dalam proses pembuatannya.

Pasalnya singkong harus dikupas kulitnya dan dicuci dengan bersih lalu diparut atau dihaluskan dengan cara digiling.

Setelah itu airnya dibuang dengan cara diperas sampai benar – benar kadar airnya berkurang.

Getuk Bokong
Menikmati Getuk Bokong
BACA JUGA  "Kopi Silurah", Harum dan Sedapnya Kopi Buatan Tangan Dari Pelosok Batang

Setelah itu baru singkong yang sudah halus dan kering di rebus selama lima belas menit, untuk getuk goreng yang berwarna coklat saat direbus adonanya diberi garam secukupnya dan gula aren, Kalau yang warna putih hanya di kasih garam saja.

Tidak berhenti disitu saja dalam proser pembuatannya karena masih harus ditumbuk agar tidak menggumpal dan untuk meratakan rasa manisnya serta garamnya, lalu baru proses pencetakan menjadi Getuk bokong dengan menggunkan alat cetak baskom.

Sunaryo pembuat gethok mengatakan, untuk sebenarnya makanan Getuk ini dinamakan gerhuk gaplek, tetapi banyak orang di luar desa menamakan Getuk bokong karena bentuknya menyerupai bokong atau pantat.

“Banyak masyarakat yang menamakan gethul bokong, karena mungkin bentuknya yang menyerupai bokong.” Katanya

BACA JUGA  Serabi Kalibeluk Makanan Khas Kota Batang

Getuk dengan diameter 25cm yang memiliki ketebalan 3 cm biasa di jual di pasar – pasar Kecamatan, sampai ke pasar Dieng Kabupaten Banjaregara dengan di patok harga limaribu sampau dengan duabelas rubu rupiah saja.

“Kita biasa jual ke pasar Bawang dan pasar Dieng Kabupaten Banjarnegara dan Alhamdulillah laris manis habis terjual.” Kata Sunaryo

Ia juga berharap kepada pemerintah untuk mendapatkan bantuan berupa mesin dan modal usaha, karena merasa kesulitan dalam membesarkan usahanya ketika harus berproduksi dengan jumlah banyak.

BACA JUGA  8 Makanan Khas Pekalongan Paling Enak dan Lezat
Loading...

Komentari - Centang untuk Berbagi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *