oleh

Digempur Zaman, SUKU KALANG Montongsari Weleri Tetap Lestarikan Warisan Nenek Moyang

-KENDAL-Dibaca 475 Kali

PORTALBATANG.ID, KENDAL – Suku Kalang di Kecamatan Weleri tepatnya di Desa Montongsari hingga sekarang masih melestarikan tradisi nenek moyangnya. Suku Kalang sudah ada sebelum agama Islam masuk ke Jawa pada zaman kerajaan.

“Suku Kalang ada kaitannya juga dengan Legenda Sangkuriang” Kata Demang (Dukun) Kalang bernama Ibu Wariah.


Pada hari Rabu sampai Kamis 11-12 Juli 2018 selepas salat isya’ salah satu masyarakat Desa Montongsari melakukan acara prosesi mendak 1 tahun.

Tradisi mendak (memperingati) orang yang telah meninggal dunia diisi dengan rangkaian macam prosesi yaitu Weh-Wehan Mangan, Sesangon, dan Kalang Obong.

Acara mendak biasanya dilaksanakan oleh warga Suku Kalang 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 3 tahun setelah orang meninggal dunia.

Dalam acara mendak ada beberapa hal yang harus disiapkan oleh keluarga yang memperingati acara mendak tersebut sesuai dengan apa yg diperintahkan oleh sang demang (dukun) Kalang.

Biasanya pada saat mendak keluarga harus menyiapkan kayu jati yang dibentuk layaknya seorang manusia.

Mereka biasa menyebutnya pengantin.

BACA JUGA  15 Miliar Digelontorkan, Banyak Kondom Bekas Berceceran di Rumah Dinas Bupati Kendal

Pengantin tersebut dijadikan sebagai media untuk memasukkan ruh arwah yang dipanggil oleh Demang Kalang sehari sebelum acara mendak dengan ritual memutar-mutarkan pengantin tersebut di dalam rumah keluarga tersebut.

Selain menyiapkan Pengantin, ada beberapa hal lagi yang harus disediakan yaitu sesajen yang berupa Ayam Bakar, Pisang Ayu, Pisang Raja, Sate Bebek, Gemblong dan beberapa peralatan persyaratan lain seperti dupa, tampah dan lain-lain.

Hal itu dimaksudkan sebagai kiriman dari keluarga yang di dunia untuk sang almarhum.

BACA JUGA  GANJAR PRANOWO: Punya "KARTU TANI", Warga Kendal GRATIS Pupuk

“Iya mas ini sebagai bentuk pemberian atau bekal dari alam padang (dunia) untuk dikirimkan kepada almarhum ketika akan menuju surga-Nya” Kata Demang Kalang

Ketika peralatan dan sesajen sudah siap, maka acara prosesi weh-wehan mangan dimulai.

Pada prosesi ini sanak keluarga baik itu anak maupun cucu dari almarhum saling berbagi makanan untuk mendapatkan berkah pada prosesi tersebut.

Setelah weh-wehan mangan, dilanjut dengan acara sesangon. Yaitu sanak keluarga memberi uang ke dalam tempat yang telah disediakan.

Loading...

Komentar

Index Berita