portalbatang.id – Kemenangan meyakinkan Timnas Indonesia atas Singapura dengan skor 2-0 dalam laga pembuka Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 memicu beragam reaksi dari publik sepak bola tanah air. Meski berhasil mengamankan tiga poin penting di Stadion Utama Gelora Bung Karno, performa fisik para pemain Garuda justru menjadi sasaran kritik tajam. Banyak pihak menilai para pemain diaspora yang merumput di Eropa tersebut tampak kelelahan dan tidak bertenaga sepanjang pertandingan.
Namun, di balik sorotan negatif mengenai stamina, terdapat strategi manajemen energi yang sangat krusial untuk menghadapi jadwal turnamen yang sangat padat. Berbeda dengan sistem kompetisi liga yang memiliki jeda waktu cukup lama antar pertandingan, sistem turnamen menuntut pemain untuk menjaga ritme bioritmik tubuh agar tetap stabil di setiap laga.

Gelandang andalan Timnas Indonesia, Thom Haye, memberikan penjelasan mengenai kondisi di dalam ruang ganti. Pemain yang dijuluki "Sang Profesor" ini menegaskan bahwa menjaga kebugaran adalah tantangan terbesar dalam turnamen ini. Menurutnya, jadwal yang sangat rapat dengan jeda istirahat yang minim menuntut pelatih untuk sangat jeli dalam melakukan rotasi pemain.
Also Read
"Kondisi fisik sejauh ini masih dalam kategori bagus. Namun, kita harus sadar bahwa jadwal pertandingan sangat padat dengan jeda yang sangat singkat. Pelatih harus memastikan seluruh pemain tetap bugar. Kemungkinan besar akan ada rotasi pemain pada laga-laga berikutnya demi menjaga kesehatan tim secara keseluruhan," ungkap Thom Haye sebagaimana dikutip dari laman resmi FIFA.
Menanggapi kritik mengenai fisik pemain yang dianggap kedodoran, pengamat sepak bola senior, Gusnul Yakin, memberikan pembelaan. Ia menilai bahwa para pemain profesional yang terbiasa bermain di kompetisi elit Eropa justru lebih memahami cara mengelola energi mereka. Menurutnya, pemain tidak perlu memaksakan diri bermain dengan intensitas tinggi yang tidak perlu jika kemenangan sudah di depan mata.
Gusnul menjelaskan bahwa jika pemain terlalu memforsir tenaga saat melawan Singapura, mereka akan mengalami penurunan performa yang drastis pada laga krusial berikutnya. Pasalnya, Timnas Indonesia masih memiliki agenda berat melawan Malaysia pada 28 September dan Bangladesh pada 1 Oktober mendatang.
"Jika di pertandingan awal tenaga sudah dikuras habis, maka saat memasuki fase final, tenaga mereka bisa habis sama sekali. Saya melihat para pemain sangat pintar. Mereka tidak bermain ngotot secara berlebihan karena misi utamanya adalah meraih kemenangan, bukan sekadar pamer fisik," ujar mantan pelatih Arema tersebut.
Selain faktor taktik, Gusnul juga menyoroti kendala jetlag yang sering dialami oleh para pemain abroad. Perjalanan jauh dari Eropa menuju Jakarta seringkali mengganggu ritme sirkadian tubuh, yang secara otomatis berdampak pada kebugaran fisik saat bertanding. Dengan demikian, kemenangan atas Singapura bukan sekadar soal skor, melainkan keberhasilan dalam mengelola risiko kelelahan di tengah jadwal yang mencekik.




