portalbatang.id – Kebijakan baru yang diusung oleh I.League untuk kompetisi BRI Super League musim 2026/2027 menuai respons positif dari berbagai pihak, salah satunya dari manajemen PSIM Yogyakarta. Perubahan regulasi yang cukup signifikan ini berfokus pada pemberian insentif finansial bagi klub-klub yang bersedia memberikan menit bermain kepada para talenta muda di lapangan hijau.
Berbeda dengan musim-musim sebelumnya, regulasi terbaru ini menghapus kewajiban bagi setiap klub untuk memasukkan pemain di bawah usia 23 tahun (U-23) ke dalam starting eleven. Sebagai gantinya, I.League memperkenalkan skema bonus tambahan yang bersifat gradual. Artinya, semakin muda usia pemain yang diturunkan oleh sebuah klub, maka semakin besar pula nilai insentif yang akan diterima oleh kas klub tersebut.

Manajer PSIM Yogyakarta, Iksan Mahar, menyatakan bahwa langkah ini merupakan sebuah kemajuan bagi ekosistem sepak bola profesional di Indonesia. Menurutnya, penghapusan kewajiban bermain pemain U-23 memberikan fleksibilitas penuh bagi tim pelatih untuk menyusun strategi dan komposisi pemain terbaik tanpa terikat batasan usia tertentu di setiap pertandingan.
Also Read
"Terkait insentif pemain muda, kami rasa ini cukup positif. Meskipun sudah tidak ada kewajiban lagi untuk bermain karena kita tahu seyogyanya liga profesional tidak perlu ada batasan umur seperti itu," ujar Iksan kepada awak media, Rabu (30-9-2026). Ia menambahkan bahwa keleluasaan ini sangat membantu pelatih dalam menentukan pemain yang paling siap secara fisik dan mental untuk memenangkan pertandingan.
Meski aturan wajib pemain U-23 telah dihapus, Laskar Mataram berkomitmen untuk tetap memberikan ruang bagi pemain muda untuk berkembang. Hal ini terbukti pada tiga laga awal musim ini, di mana beberapa pemain muda seperti Raka Cahyana Rizky dan Muhammad Alwi Fadilah telah mendapatkan kepercayaan untuk tampil di lapangan. Keduanya yang saat ini berusia 22 tahun menjadi bukti bahwa regenerasi tetap berjalan di tubuh PSIM.
Iksan juga menyebutkan bahwa kehadiran pemain muda seperti Cahya dalam skema permainan tim juga menjadi bagian dari pengembangan talenta lokal. "Kami sangat mengapresiasi rencana insentif dari I.League ini. PSIM sudah mulai memainkan pemain-pemain muda kami, dan ini sejalan dengan misi kami untuk terus mengembangkan pemain lokal yang masih dalam kategori usia tersebut," tambahnya.
Lebih lanjut, Iksan menekankan bahwa di bawah arahan pelatih Jean-Paul van Gastel, kesempatan bermain di PSIM tidak hanya didasarkan pada faktor usia semata. Semua pemain, baik yang masih sangat muda maupun yang sudah senior, memiliki peluang yang sama untuk bersaing memperebutkan posisi di tim utama.
Kebijakan insentif dari I.League ini diharapkan tidak hanya menjadi tambahan pendapatan bagi klub, tetapi juga menjadi pemacu motivasi bagi para pemain muda untuk terus mengasah kemampuan mereka. Dengan adanya apresiasi finansial bagi klub, diharapkan iklim kompetisi di BRI Super League akan semakin sehat, di mana klub tidak lagi merasa terbebani oleh regulasi usia, melainkan justru termotivasi untuk terus memproduksi talenta-talenta berbakat bagi sepak bola Indonesia.




