Rahasia Sukses Garuda Juara ASEAN Cup

Author Image

Dewi Laksmi

6 Oktober 2026, 18:39 WIB

portalbatang.id – Keberhasilan Timnas Indonesia menyabet gelar juara dalam ajang FIFA ASEAN Cup 2026 bukanlah sebuah kebetulan belaka. Di balik trofi yang berhasil dibawa pulang, terdapat performa luar biasa dari setiap lini yang diracik dengan skema 3-4-3 oleh pelatih John Herdman. Kemenangan ini menjadi bukti nyata bahwa komposisi pemain yang dipilih mampu menjawab tantangan di lapangan hijau.

Jika membedah sektor penjaga gawang, Indonesia memiliki dua sosok spesial yang menjadi tembok kokoh di bawah mistar. Maarten Paes tampil sangat impresif pada fase awal turnamen. Kiper yang merumput di Ajax Amsterdam ini berhasil menjaga gawang tetap perawan dalam beberapa laga krusial, termasuk saat Indonesia harus bermain dengan sepuluh orang melawan Malaysia.

Rahasia Sukses Garuda Juara ASEAN Cup
Gambar Istimewa : cdn1-production-images-kly.akamaized.net

Namun, dinamika terjadi saat Emil Audero mendapatkan kesempatan bermain. Meski sempat kebobolan dua gol saat melawan Bangladesh dan dua gol di partai final, Audero muncul sebagai pahlawan. Penyelamatan penaltinya terhadap pemain Thailand di partai puncak menjadi momen paling krusial yang memastikan gelar juara tetap milik Skuad Garuda.

Beralih ke lini pertahanan, ketangguhan bek Indonesia patut diacungi jempol. Meski tanpa kehadiran Jay Idzes, trio Kevin Diks, Elkan Baggott, dan Justin Hubner tampil sangat solid sebagai starter di setiap pertandingan. Elkan Baggott menjadi sosok yang paling menonjol karena selalu bermain penuh tanpa tergantikan. Rizky Ridho juga memberikan kedalaman skuad yang mumpuni di sektor ini. Meski demikian, lini belakang masih memiliki pekerjaan rumah terkait transisi lawan yang sempat menyumbang empat gol ke gawang Indonesia.

Keseimbangan permainan Garuda sangat bergantung pada sektor tengah. John Herdman mengandalkan duet Joey Pelupessy dan Calvin Verdonk untuk menjaga stabilitas. Joey, meski menjadi pemain paling senior di lapangan, menunjukkan kelasnya dengan bermain penuh hingga partai final. Perpaduan karakter keduanya membuat lini tengah Indonesia mampu menguasai bola dengan agresif sesuai filosofi pelatih. Selain itu, kehadiran Ivar Jenner sebagai pemain pengganti memberikan dimensi baru dalam permainan.

Puncak kejayaan Indonesia justru meledak di lini serang. Dua nama menjadi bintang utama dalam turnamen ini. Mitchell Baker, striker muda berusia 19 tahun, mencatatkan sejarah fenomenal dengan mencetak lima gol sekaligus dalam satu laga saat melawan Bangladesh. Pencapaian ini membawanya menyabet gelar top scorer turnamen.

Tak hanya Baker, Ole Romeny juga memainkan peran vital. Walaupun hanya mencetak satu gol, Romeny tampil sebagai "raja umpan" dengan torehan empat assist, yang membuatnya dinobatkan sebagai pemain dengan assist terbanyak. Sinergi antara ketajaman Baker dan kreativitas Romeny menjadi kunci utama yang menghancurkan pertahanan lawan sepanjang turnamen.

Related Post