portalbatang.id – Perjalanan karier seorang atlet profesional sering kali tidak semulus yang dibayangkan publik. Bagi Hugo Samir, pemain muda berbakat yang kini berseragam Borneo FC Samarinda, sepak bola bukan sekadar tentang teknik dan fisik, melainkan tentang perjuangan melawan bayang-bayang masa lalu. Momen ketika ia berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan untuk pertama kalinya di level profesional menjadi sebuah titik balik yang sangat emosional.
Bagi putra dari pelatih legendaris Indonesia, Jacksen F. Tiago ini, gol perdana tersebut bukan sekadar tambahan angka di papan skor. Gol itu adalah simbol kebangkitan. Setelah melewati berbagai dinamika, pasang surut, hingga masa-masa sulit dalam perjalanan kariernya, Hugo akhirnya menemukan kembali jati dirinya di tengah gemuruh pendukung Borneo FC.

Dalam sebuah sesi wawancara yang penuh haru, Hugo tidak mampu menyembunyikan luapan emosinya. Ia mengaku bahwa perasaan yang ia rasakan saat ini sangat kompleks. Ada rasa bahagia yang meluap, namun di saat yang sama, ada rasa haru yang mendalam karena ia berhasil melewati masa-masa kelam yang sempat menghambat langkahnya di lapangan hijau.
Also Read
"Tentunya saya merasa sangat bahagia, namun rasanya campur aduk antara senang dan terharu. Saya merasa terharu karena jika menengok ke belakang, ada banyak kisah masa lalu saya yang sangat buruk. Namun, pada akhirnya saya bisa bangkit kembali, berdiri tegak di posisi ini, dan mencetak gol profesional pertama saya untuk Borneo FC," tutur Hugo dengan nada bicara yang tulus.
Keberhasilan ini tidak ia rayakan sebagai pencapaian pribadi semata. Di balik setiap langkahnya, ada dukungan moral yang tak terputus dari keluarga besarnya. Hugo secara khusus mendedikasikan momen bersejarah ini untuk orang-orang tercinta yang selalu menjadi pilar kekuatannya, terutama sang ayah, Jacksen F. Tiago.
Ia mengungkapkan bahwa nasihat sang ayah selalu menjadi kompas dalam menghadapi tekanan di lapangan. Di tengah kegelisahan mencari bentuk permainan terbaik, pesan sang ayah tentang ketenangan menjadi kunci utama.
"Saat gol itu tercipta, pikiran saya langsung tertuju kepada Papa. Papa selalu berpesan bahwa jika saya bermain dengan tenang, maka waktu untuk mencetak gol pasti akan datang. Akhirnya, semua itu terwujud berkat doa dari Papa, Mama, dan adik saya," ungkapnya menutup pembicaraan.
Kini, dengan gol perdana tersebut, Hugo Samir seolah telah lahir kembali. Ia tidak lagi hanya dikenal sebagai putra seorang legenda, melainkan sebagai pemain yang mampu membuktikan kualitasnya melalui kerja keras dan ketenangan mental. Perjalanan Hugo di Borneo FC baru saja dimulai, namun fondasi emosional yang ia bangun melalui gol ini akan menjadi modal berharga untuk menghadapi tantangan musim depan.




