portalbatang.id – Dunia sepak bola tanah air kembali dikejutkan dengan rilis terbaru dari Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) terkait isu tunggakan pembayaran kepada para pemain. Dalam laporan yang dipublikasikan, APPI mengungkapkan adanya sejumlah klub dari berbagai kasta kompetisi yang masih memiliki kewajiban finansial kepada ratusan pemain. Data ini memicu perbincangan hangat di kalangan penggemar sepak bola nasional, terutama mengenai transparansi manajemen klub dalam memenuhi hak-hak atletnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat 24 klub yang beroperasi di empat kompetisi berbeda, yakni BRI Super League, Pegadaian Championship, Liga Nusantara, dan Liga 4, yang tercatat masih memiliki tanggungan. Total nilai kewajiban yang harus segera diselesaikan oleh klub-klub tersebut mencapai angka yang cukup fantastis, yakni sekitar Rp15,7 miliar. Laporan ini merupakan pembaruan dari data sebelumnya yang sempat dirilis pada awal September 2026, yang menunjukkan bahwa persoalan finansial di sepak bola profesional masih menjadi tantangan besar.

APPI sendiri telah mengategorikan masalah pembayaran ini ke dalam beberapa tahapan penyelesaian. Hal ini dilakukan untuk memetakan sejauh mana progres penanganan kasus tersebut, mulai dari tahap korespondensi awal antara pemain dan klub, penanganan melalui National Dispute Resolution Chamber (NDRC) Indonesia, hingga tahap yang paling krusial yakni adanya putusan dari NDRC maupun FIFA yang hingga kini belum dilaksanakan oleh pihak klub.
Also Read
Sorotan tajam tertuju pada dua klub besar di kasta tertinggi, BRI Super League, yakni Persija Jakarta dan PSM Makassar. Dalam pendataan APPI, kedua klub raksasa ini masuk dalam daftar klub yang memiliki kewajiban pembayaran kepada sejumlah pemain. Persija tercatat memiliki kewajiban sebesar Rp1,165 miliar, sementara PSM Makassar tercatat memiliki kewajiban senilai 34.000 dolar AS atau setara dengan Rp615 juta.
Menanggapi hal tersebut, pihak Persija Jakarta segera memberikan klarifikasi untuk meluruskan persepsi publik. Manajemen Persija menegaskan bahwa persoalan yang sempat masuk dalam tahap korespondensi tersebut sebenarnya bukan merupakan tunggakan gaji pokok pemain. Menurut penjelasan manajemen, dana yang dimaksud dalam laporan tersebut adalah pembayaran bonus yang sempat tertunda.
Lebih lanjut, Persija menyatakan bahwa mereka telah menunjukkan komitmen profesional dengan menyelesaikan seluruh kewajiban tersebut secara cepat. Manajemen mengklaim bahwa pembayaran telah dilakukan pada hari yang sama setelah adanya koordinasi terkait persoalan tersebut. Persija memastikan bahwa per tanggal 6 November 2026, seluruh kewajiban finansial yang berkaitan dengan perkara tersebut telah tuntas dan diselesaikan sepenuhnya.
Di sisi lain, kondisi PSM Makassar terlihat sedikit lebih kompleks dalam laporan APPI. Klub berjuluk Juku Eja tersebut tercatat memiliki satu perkara yang masih dalam tahap korespondensi, dua perkara yang sudah masuk dalam putusan NDRC Indonesia, serta satu perkara yang sudah mencapai putusan FIFA namun belum dilaksanakan oleh pihak klub. Situasi ini menjadi catatan penting bagi manajemen PSM untuk segera menuntaskan segala kewajiban agar tidak berdampak pada stabilitas tim di masa mendatang.




