Nusa Tenggara Timur – Ratusan siswa di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami insiden keracunan massal yang diduga disebabkan oleh program makanan bergizi (MBG). Sebanyak 215 siswa menjadi korban, memicu kekhawatiran dan desakan untuk investigasi mendalam.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, mengecam keras kejadian ini. Ia menyatakan bahwa insiden ini mencoreng tujuan mulia pemerintah dalam meningkatkan gizi dan mencerdaskan anak bangsa. "Jangan sampai program baik pemerintah ternodai akibat kelalaian dalam pemilihan dan pengawasan makanan. Memberikan makanan yang tidak terjamin keamanannya sama saja mengabaikan masa depan generasi penerus," tegasnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Portal Batang ID, Jumat (26/07/2025).

Ninik, sapaan akrabnya, mendesak Badan Pangan Nasional (BPN) untuk meningkatkan pengawasan terhadap menu makanan yang disajikan kepada siswa, terutama dalam program bantuan makan bergizi. Pengawasan ini tidak hanya terbatas di NTT, tetapi juga di seluruh daerah penerima program serupa.
"Kami mendesak BPN untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mitra penyedia makanan. Lakukan pengecekan di seluruh daerah, jangan sampai kejadian serupa terulang. Ini menyangkut keselamatan dan masa depan anak-anak kita," ujarnya.
Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa itu juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, termasuk Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Dinas Kesehatan, dan Dinas Pendidikan, untuk memastikan standar kualitas dan keamanan pangan terjaga ketat.
"Saya meminta agar sinergi antara pengelola MBG dengan BPOM dan pihak terkait ditingkatkan. Program makanan bergizi adalah investasi masa depan bangsa. Jangan sampai malah menjadi sumber penyakit karena kurangnya pengawasan," pungkasnya.
Dalam dua hari terakhir, sedikitnya 215 siswa di NTT mengalami gejala keracunan massal setelah mengonsumsi makanan dari program MBG. Insiden ini terjadi di dua wilayah: 140 siswa SMPN 8 Kupang dan 75 siswa dari tiga sekolah di Kabupaten Sumba Barat Daya. Gejala yang dilaporkan meliputi mual, muntah, diare, pusing, dan gatal-gatal, yang menyebabkan sejumlah siswa harus dilarikan ke rumah sakit.
Kasus ini menjadi sorotan tajam dan memicu tuntutan agar aparat penegak hukum mengusut tuntas dugaan kelalaian yang menyebabkan keracunan massal ini. Masyarakat berharap kejadian serupa tidak terulang dan program makanan bergizi dapat berjalan dengan aman dan efektif demi kesehatan dan masa depan anak-anak Indonesia.