Menjelang peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia, fenomena unik terjadi: bendera bajak laut dari anime populer One Piece ramai berkibar di berbagai daerah. Aksi ini tak hanya viral di media sosial, tetapi juga menarik perhatian media asing dan memicu perdebatan di dalam negeri.
Screen Rant, sebuah media hiburan asal Amerika Serikat, menyoroti pernyataan Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, yang menganggap pengibaran bendera One Piece bukan sekadar ekspresi penggemar. Menurutnya, ada indikasi upaya terkoordinasi untuk memecah belah persatuan bangsa.

"Ini bukan kebetulan. Ada upaya untuk memecah belah bangsa," tegas Dasco, seperti dikutip Portal Batang ID, Sabtu (2/8/2025), merespons video-video TikTok yang memperlihatkan bendera Jolly Roger (lambang bajak laut Topi Jerami) berkibar berdampingan dengan bendera Merah Putih.
Secara hukum, tidak ada larangan khusus mengibarkan bendera fiksi. Namun, aturan di Indonesia melarang pengibaran bendera lain yang lebih tinggi dari bendera nasional, demi menghormati lambang negara.
One Piece, karya Eiichiro Oda yang terbit sejak 1997, bukan sekadar kisah petualangan Monkey D. Luffy mencari harta karun. Cerita ini juga menyentuh tema perlawanan terhadap Pemerintah Dunia yang korup dan represif. Pemerintah Dunia dalam cerita menggunakan kekuatan militer untuk membungkam perbedaan pendapat.
Tema-tema inilah yang membuat banyak orang di seluruh dunia, terutama yang merasa tertindas, melihat bendera Topi Jerami sebagai simbol perjuangan melawan ketidakadilan. Di Indonesia, dengan dinamika sosial-politik yang ada, pengibaran bendera One Piece bisa jadi merupakan bentuk protes terselubung.
Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua yang mengibarkan bendera ini memiliki motif politik. Sebagian besar mungkin hanya ingin menunjukkan kecintaan mereka pada anime tersebut. Terlepas dari niatnya, One Piece telah bertransformasi menjadi simbol global yang kaya makna, dan interpretasinya bisa berbeda bagi setiap penggemar.