Surabaya, Portal Batang ID – Gelombang kekhawatiran muncul menjelang rencana aksi unjuk rasa yang akan digelar kelompok Rakyat Jawa Timur Menggugat di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada 3 September mendatang. Aan Ainur Rofik, mantan aktivis Reformasi 1998, secara terbuka menyerukan agar aksi tersebut dibatalkan atau setidaknya ditunda.
Seruan ini muncul sebagai respons atas aksi demonstrasi sebelumnya yang berujung ricuh, baik di Jakarta maupun di Surabaya. Aan, yang juga mantan Ketua PC PMII Kota Surabaya, mengingatkan bahwa aksi unjuk rasa yang tidak terkendali dapat memicu kekerasan dan merugikan masyarakat luas.

"Kita sudah melihat bagaimana aksi di Jakarta dan Surabaya berujung bentrok dan kerusakan. Bahkan, ada korban jiwa. Ini sangat memprihatinkan," ujar Aan. Ia mencontohkan kasus Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang menjadi korban dalam aksi sebelumnya, sebagai bukti nyata dampak buruk dari unjuk rasa yang anarkis.
Aan mengaku telah berkomunikasi langsung dengan M. Sholeh, koordinator aksi 3 September, yang juga merupakan sahabatnya sesama aktivis ’98. Melalui surat dan pertemuan, Aan menyampaikan permohonan agar rencana aksi tersebut ditinjau kembali.
"Saya memahami semangat perjuangan M. Sholeh. Namun, dalam situasi yang masih panas ini, saya mohon dengan sangat agar aksi ditunda demi keselamatan dan kondusifitas Jawa Timur," tegas Aan.
Lebih lanjut, Aan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga situasi tetap tenang dan menghindari provokasi. Ia menekankan bahwa kerusuhan hanya akan merugikan masyarakat kecil dan tidak akan menyelesaikan masalah yang ada. "Mari kita kedepankan dialog dan cara-cara damai dalam menyampaikan aspirasi," pungkasnya.