Alireza Tangsiri: Sosok Kunci AL Iran yang Diklaim Tewas oleh Israel
Jakarta – Klaim sensasional datang dari Israel yang menyatakan telah berhasil membunuh Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Alireza Tangsiri, dalam serangan udara terbaru mereka. Jika klaim ini terkonfirmasi, kematian Tangsiri akan menjadi pukulan signifikan bagi Teheran, mengingat perannya yang sentral dalam keamanan maritim Iran dan kendali atas Selat Hormuz yang strategis.

Tangsiri dikenal luas sebagai figur militer garis keras Iran dengan retorika yang tajam dan pemahaman mendalam tentang geopolitik perairan. Ia adalah otoritas utama dalam menjaga keamanan perairan Iran, termasuk Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran vital yang menjadi koridor bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Selat ini juga menjadi titik panas dalam ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran selama beberapa waktu terakhir.
Jejak Karier dan Strategi Maritim
Kredibilitas Tangsiri dibangun sejak usia muda, saat ia terlibat aktif dalam Perang Iran-Irak yang berdarah pada tahun 1980-1988. Kinerja cemerlangnya selama konflik tersebut membawanya pada serangkaian promosi, hingga akhirnya ia diangkat menjadi komandan pasukan maritim IRGC pada tahun 2018.
Di bawah kepemimpinannya, Angkatan Laut IRGC mengembangkan berbagai senjata non-konvensional yang memungkinkan Iran memproyeksikan kekuatan dan pengaruhnya di Teluk Persia dan sekitarnya. Kementerian Keuangan Amerika Serikat bahkan menjatuhkan sanksi terhadap Tangsiri pada tahun 2019 dan 2023. Washington menuduhnya mengawasi uji coba rudal jelajah oleh Angkatan Laut IRGC serta menjadi anggota dewan perusahaan yang mengembangkan drone bersenjata – dua jenis senjata yang berpotensi digunakan untuk mempertahankan blokade di Selat Hormuz.
Tangsiri juga merupakan pendukung kuat pengembangan kapal cepat yang ringan dan lincah. Menurutnya, kapal-kapal ini mampu mengancam pelayaran sipil sekaligus menghindari sistem pertahanan kapal perang modern, memberikan keuntungan taktis bagi Iran di perairan Teluk.
Retorika Tajam dan Ultimatum
Sosok Tangsiri juga dikenal karena pernyataan-pernyataannya yang provokatif. Pekan lalu, ia menantang Amerika Serikat untuk melancarkan serangan darat ke Pulau Kharg, pusat utama ekspor minyak Iran, sembari menyoroti dampak langkah tersebut terhadap harga minyak global.
Pada awal pekan ini, Tangsiri juga menggaungkan ultimatum keras kepada AS dan Israel, menegaskan bahwa Iran telah "menyiapkan kuburan bagi para agresor pembunuh anak-anak." Pernyataan ini mencerminkan sikap tidak kompromi Iran dalam menghadapi ancaman eksternal.
Implikasi dan Reaksi Internasional
Jika kematian Tangsiri terkonfirmasi, ia akan menjadi petinggi Iran dan militer negara itu yang tewas di tangan Israel atau AS. Laporan menyebutkan, Kepala Direktorat Intelijen Angkatan Laut IRGC, Behnam Rezaei, juga ikut tewas dalam serangan yang sama di kota pelabuhan Bandar Abbas.
Kematian Tangsiri menuai beragam reaksi dari pejabat internasional. Komandan Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, menyatakan bahwa kematian Tangsiri oleh Israel "membuat kawasan menjadi lebih aman." Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menuduh Tangsiri bertanggung jawab atas serangan yang menghambat pelayaran di Selat Hormuz. Katz menegaskan bahwa serangan yang menewaskan Tangsiri ini merupakan "pesan" tegas kepada IRGC: "[Israel] akan memburu kalian dan melenyapkan kalian satu per satu."
Klaim ini menambah daftar panjang ketegangan di Timur Tengah, dengan potensi eskalasi yang selalu membayangi. Dunia kini menanti konfirmasi resmi dari Teheran terkait nasib Alireza Tangsiri, sosok kunci yang telah lama menjadi duri dalam daging bagi musuh-musuh Iran.
Oleh Tim Redaksi Portal Batang ID