Meugang di Tengah Derita Banjir: Semangat Ramadan Warga Aceh Tak Padam
ACEH – Di tengah kepungan genangan air sisa banjir yang melanda beberapa wilayah, masyarakat Aceh tetap teguh melestarikan tradisi Meugang, sebuah ritual penting yang menandai datangnya bulan suci Ramadan. Pemandangan warga yang bergotong royong menyembelih hewan ternak dan membagikan dagingnya menjadi simbol ketahanan dan semangat kebersamaan yang tak lekang oleh bencana.

Banjir yang terjadi baru-baru ini memang menyisakan duka dan kesulitan bagi banyak keluarga di Aceh. Akses yang terhambat, rumah-rumah yang masih terendam, serta kerugian materiil tak pelak menjadi beban. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan niat mereka untuk menyambut Ramadan dengan tradisi Meugang yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Meugang, yang secara harfiah berarti "makan daging", adalah tradisi khas Aceh di mana masyarakat menyembelih sapi, kerbau, atau kambing, kemudian dagingnya diolah dan disantap bersama keluarga, kerabat, serta dibagikan kepada tetangga dan mereka yang membutuhkan. Tradisi ini bukan sekadar perayaan kuliner, melainkan wujud syukur atas rezeki, mempererat tali silaturahmi, dan sebagai persiapan spiritual menyambut bulan puasa.
"Banjir memang menyulitkan kami, banyak barang rusak dan aktivitas terhambat. Tapi Meugang adalah bagian dari identitas kami, cara kami bersyukur dan menyambut Ramadan. Kami harus tetap melaksanakannya, meskipun dengan segala keterbatasan," ungkap Ibu Aminah, seorang warga terdampak banjir di salah satu desa, kepada Portal Batang ID. Ia menambahkan bahwa semangat gotong royong antarwarga justru semakin kuat di masa sulit ini.
Terlihat, sejumlah warga bahu-membahu menyiapkan lokasi penyembelihan, membersihkan daging, hingga mengemasnya untuk dibagikan. Anak-anak pun turut antusias menyaksikan prosesi ini, belajar tentang makna kebersamaan dan pentingnya melestarikan budaya. Daging-daging segar tersebut kemudian diolah menjadi berbagai hidangan lezat yang akan disantap bersama keluarga di hari menjelang puasa.
Perayaan Meugang di tengah tantangan banjir ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kebersamaan, keimanan, dan kecintaan terhadap tradisi tak mudah padam. Masyarakat Aceh menunjukkan bahwa meskipun diterpa cobaan, mereka tetap mampu menjaga nilai-nilai luhur dan menyambut bulan Ramadan dengan hati yang penuh harap dan syukur. Tradisi Meugang bukan hanya tentang daging, melainkan tentang jiwa dan semangat yang tak tergoyahkan.