Retorika Berliku Trump: Empat Perubahan Sikap Krusial soal Iran
Jakarta – Selama lebih dari sebulan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran berkecamuk, Presiden AS Donald Trump menunjukkan pola retorika yang berliku dan kerap berubah-ubah. Sejak eskalasi dimulai pada akhir Februari 2020, pesan-pesan yang disampaikan Trump dinilai membingungkan, baik bagi sekutu maupun publik Amerika.

Dari janji pengakhiran konflik yang cepat, ancaman serangan dahsyat, hingga sinyal negosiasi damai, inkonsistensi ini telah memicu kebingungan dan ketidakpastian di panggung global. Sebelumnya, Trump juga sempat mengancam akan campur tangan di Iran dengan alasan pembunuhan demonstran, namun alasan tersebut kemudian bergeser seiring dengan dinamika konflik.
Berikut adalah empat poin utama yang menyoroti perubahan sikap Presiden Trump terkait Iran:
1. Inkonsistensi Alasan Intervensi
Gelombang demonstrasi di Iran pada akhir Desember sempat menjadi dasar Trump mengecam Teheran dan membuka kemungkinan intervensi. "Saat mereka mulai membunuh ribuan orang dan sekarang Anda memberitahu saya soal hukuman gantung. Kita akan lihat bagaimana konsekuensinya bagi mereka," ujar Trump kala itu.
Namun, setelah serangan AS-Israel dimulai, alasan utama bergeser menjadi upaya menghentikan program nuklir Iran. "Satu hal yang pasti: saya tidak akan pernah membiarkan sponsor terorisme terbesar di dunia memiliki senjata nuklir," tegasnya. Belakangan, narasi Trump kembali berubah. Ia menyebut operasi militer dilakukan untuk membantu sekutu Washington di Timur Tengah. "Kami tidak perlu berada di sana. Kami tidak membutuhkan minyak mereka atau apa pun yang mereka miliki. Kami berada di sana untuk membantu sekutu kami," katanya pada Rabu (1/4).
2. Ambivalensi Durasi dan Intensitas Perang
Pada Rabu (25/3), Trump dilaporkan menyampaikan keinginannya untuk segera mengakhiri perang dengan Iran dalam beberapa pekan, guna menghindari konflik berkepanjangan. Keinginan ini disampaikan kepada para penasihatnya di tengah konflik yang telah berlangsung hampir sebulan.
Namun, pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan sikapnya kemudian. Trump menegaskan tidak akan mengungkap kapan serangan dihentikan, bahkan memperingatkan potensi kehancuran yang lebih besar. "Dalam dua hingga tiga pekan ke depan, kami akan menyerang mereka dengan sangat keras dan membawa mereka kembali ke masa keterbelakangan," ancam Trump, menunjukkan perubahan sikap yang drastis.
3. Sikap Berubah Terhadap Selat Hormuz
Trump sempat menegaskan akan mengirim kekuatan militer untuk membuka blokade Selat Hormuz oleh Korps Garda Revolusi Republik Islam Iran (IRGC). Ia juga menyerukan negara-negara sekutu, termasuk anggota NATO, untuk ikut mengerahkan kekuatan militer. Namun, seruan itu tidak banyak direspons, kecuali oleh Israel.
Belakangan, Trump memberi sinyal siap mengakhiri perang meski Selat Hormuz belum dibuka. Sumber di pemerintahan AS menyebut Trump telah menyampaikan kepada penasihatnya bahwa ia mempertimbangkan menghentikan perang lebih dulu, baru kemudian membahas pembukaan selat tersebut. Dikutip dari Times of Israel, Trump dan timnya menyimpulkan bahwa misi membuka Selat Hormuz membutuhkan waktu lebih lama dari target awal, yakni sekitar empat hingga enam pekan.
4. Klaim Kebutuhan Minyak Iran yang Kontradiktif
Dilansir Al Jazeera, pada Minggu (30/3), Trump sempat menyatakan keinginan untuk ‘mengambil minyak’ Iran seiring konflik memasuki bulan kedua. Sehari kemudian, ia bahkan mengancam akan menargetkan infrastruktur energi Iran, termasuk sumur minyak, jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Trump juga disebut mempertimbangkan merebut pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg.
Namun, dalam pidato nasional pada Rabu (1/4), Trump justru menegaskan AS tidak membutuhkan minyak Iran. "Kami tidak membutuhkan minyak mereka. Kami tidak membutuhkan apa pun yang mereka miliki. Kami berada di sana untuk membantu sekutu kami," kata Trump, menunjukkan kontradiksi yang mencolok dalam pandangannya terhadap sumber daya energi Iran.
Rangkaian pernyataan yang saling bertolak belakang ini memperlihatkan inkonsistensi sikap Trump dalam menghadapi konflik Iran, sekaligus memicu kebingungan di kalangan sekutu dan publik internasional mengenai arah kebijakan AS yang sebenarnya.