Jakarta, Portal Batang ID – Momen perpisahan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dengan jajaran Kementerian Keuangan pada Selasa (9/9/2025) lalu, diwarnai isak tangis. Namun, sorotan terhadap air mata Sri Mulyani ini menuai kritik dari berbagai pihak.
Peneliti media dan politik, Buni Yani, melalui akun Facebook pribadinya pada Rabu (10/9/2025), menyayangkan pemberitaan yang berfokus pada kesedihan Sri Mulyani. Ia menilai, media seharusnya lebih banyak mengangkat kisah pilu rakyat yang merasakan dampak kebijakan Sri Mulyani selama lebih dari satu dekade menjabat.
:max_bytes(150000):strip_icc()/11800571_Air-Fryer-Dilly-Roasted-Japanese-Eggplant-and-Squash_Nicole-Russell_4x3-4e0b55fff4ca4473af9db0f69924ae4f.jpg)
"Harusnya wartawan jangan cuma ekspos Srimul yang menangis, tapi perbanyaklah ekspos rakyat yang menangis akibat kebijakan Srimul selama belasan tahun," tulis Buni Yani.
Menurutnya, kebijakan fiskal yang diterapkan Sri Mulyani selama menjabat sebagai Menteri Keuangan, justru membebani masyarakat dengan pungutan pajak yang dianggap tidak proporsional. Ironisnya, dana pajak yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat, justru diduga diselewengkan melalui korupsi atau dialokasikan untuk menggaji pejabat yang tidak kompeten.
"Rakyat sudah lama sekali menangis," tegas Buni Yani.
Seperti diketahui, Sri Mulyani digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan dalam reshuffle kabinet yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto. Acara serah terima jabatan diwarnai suasana haru. Para pegawai Kemenkeu memberikan penghormatan terakhir kepada Sri Mulyani dengan menyanyikan lagu-lagu perpisahan dan memberikan bunga mawar putih. Sri Mulyani pun tak kuasa menahan air mata dan dipeluk oleh sang suami, Tommy Sumartono.