portalbatang.id – Industri perfilman tanah air kembali diramaikan dengan kehadiran karya dokumenter yang memicu diskusi hangat di tengah masyarakat. Film bertajuk "The Longest Wait" yang baru saja menyapa layar lebar, ternyata berhasil mencuri perhatian publik dengan capaian yang cukup impresif. Meski sempat memicu beragam opini, tim produksi mengklaim bahwa gelombang apresiasi yang datang justru didominasi oleh sentimen positif.
Sakti Parantean, selaku Produser Eksekutif dari proyek ambisius ini, mengungkapkan bahwa sejauh ini respons yang diterima oleh pihak Fremantle sangat menggembirakan. Berdasarkan pantauan tim, mayoritas penonton yang telah meluangkan waktu untuk menyaksikan karya ini memberikan penilaian yang baik.

"Respons yang kami terima sejauh ini cukup positif. Bisa dikatakan, sekitar 50 hingga 80 persen tanggapan yang masuk, terutama dari mereka yang sudah menonton langsung, bersifat positif," ujar Sakti dalam sebuah sesi wawancara di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Also Read
Sakti menyadari sepenuhnya bahwa dalam dunia sinema, sebuah karya tidak akan pernah lepas dari kritik maupun pujian. Ia menegaskan bahwa tim produksi tidak memiliki kendali penuh atas bagaimana masyarakat akan menafsirkan sebuah cerita. Setiap individu memiliki perspektif, latar belakang, dan sudut pandang yang berbeda-beda saat duduk di kursi bioskop.
"Kami tentu tidak bisa mengontrol apakah respons yang muncul nantinya akan positif atau negatif. Setiap penonton memiliki pandangan masing-masing setelah menyaksikan dokumenter ini," tambahnya.
Film "The Longest Wait" sendiri merupakan hasil kolaborasi apik antara Fremantle dan Beach House Pictures yang bekerja sama dengan PSSI melalui PT Garuda Sepak Bola Indonesia (GSI). Mengangkat tema yang mendalam, film ini mencoba memotret sisi lain dari perjuangan sebuah bangsa.
Menanggapi berbagai opini yang beredar di media sosial, Sakti menyampaikan sebuah pesan sederhana kepada publik. Ia berharap masyarakat tidak terburu-buru memberikan penilaian sebelum benar-benar menyaksikan isi cerita secara utuh. Baginya, menonton film secara lengkap adalah kunci utama agar diskusi yang terbangun nantinya menjadi lebih berbobot dan objektif.
"Harapan kami sederhana, yakni penonton atau calon penonton bisa menyaksikan film ini terlebih dahulu. Setelah itu, barulah kita bisa berdiskusi mengenai isi filmnya," tegas Sakti. Ia juga menekankan bahwa pihak produksi sangat menghargai setiap masukan, karena diskusi adalah bagian tak terpisahkan dari sebuah karya seni.
Senada dengan Sakti, Co-Director "The Longest Wait", Arief Soeliscane Affandi, juga merasakan hal yang sama. Ia mengaku sering bertemu dengan penonton yang merasa tersentuh setelah keluar dari ruang teater. Menurut Arief, kekuatan utama film ini terletak pada kemampuannya dalam menyampaikan emosi yang mendalam.
"Ketika bertemu dengan orang-orang yang sudah menonton, respons yang kami terima cukup baik. Mereka bisa merasakan emosi dan pesan yang ingin kami hadirkan," kata Arief.
Ia menjelaskan bahwa inti dari dokumenter ini adalah tentang sebuah bangsa yang memiliki segala kemampuan dan pengorbanan luar biasa demi mencapai cita-cita besar. Melalui visual dan narasi yang kuat, tim produksi ingin mengajak penonton menyelami perjuangan di balik layar yang selama ini mungkin tidak terlihat oleh mata dunia.




