portalbatang.id – Hasil kurang memuaskan harus diterima oleh pecinta sepak bola tanah air setelah Timnas Indonesia hanya mampu bermain imbang saat menghadapi Malaysia dalam ajang FIFA ASEAN Cup. Meski hasil seri mungkin dianggap lumrah dalam sebuah laga panas, namun performa permainan skuad Garuda di lapangan memicu kritik tajam dari berbagai kalangan, termasuk pengamat sepak bola.
Kritik pedas ini tidak ditujukan kepada para pemain yang sudah berjuang habis-habisan di lapangan, melainkan langsung mengarah kepada sang juru taktik, John Herdman. Mantan pelatih Arema FC tersebut dinilai gagal memberikan strategi yang matang untuk memecah kebuntuan saat menghadapi tekanan lawan.

Pengamat sepak bola, Gusnul Yakin, memberikan analisis mendalam mengenai penurunan kualitas permainan tim nasional belakangan ini. Ia menyoroti adanya ketidakkonsistenan taktik yang diterapkan oleh Herdman. Menurutnya, seharusnya kualitas permainan Timnas Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, namun yang terjadi justru sebaliknya.
Also Read
Gusnul membandingkan kondisi saat ini dengan era kepelatihan Shin Tae-yong. Ia mengingatkan kembali momen bersejarah ketika Indonesia berhasil menumbangkan Arab Saudi dengan skor meyakinkan 2-0 pada putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Saat itu, meskipun pertahanan Indonesia terus ditekan oleh tim raksasa Asia tersebut, skema serangan balik yang dibangun sangat rapi dan terencana.
"Mari kita lihat kembali era Shin Tae-yong saat menang 2-0 atas Arab Saudi. Kala itu, pertahanan kita memang ditekan habis-habisan, namun kita mampu keluar dari tekanan tersebut melalui serangan balik yang sudah terencana dengan baik. Dua gol yang dicetak Marselino Ferdinan saat itu bukanlah sebuah kebetulan atau sekadar keberuntungan, melainkan hasil dari pola permainan yang sudah matang," ungkap Gusnul Yakin.
Lebih lanjut, Gusnul menyatakan kebingungannya terhadap arah taktik yang dibawa oleh John Herdman. Ia mencatat bahwa pada awal masa kepemimpinannya, taktik Herdman sempat terlihat memberikan dampak positif dan membuat permainan Indonesia terlihat lebih hidup. Namun, seiring berjalannya waktu, pola permainan tersebut justru dianggap semakin tidak beraturan dan kehilangan identitas.
Jika target besar tim adalah untuk bersaing di Piala Asia 2027, maka seharusnya fondasi permainan dibangun semakin kokoh dari hari ke hari. Namun, fenomena yang terlihat saat ini justru menunjukkan adanya kemunduran dalam hal organisasi permainan di lapangan.
Salah satu poin krusial yang disoroti adalah kecenderungan Herdman yang terlalu banyak melakukan eksperimen di tengah turnamen resmi seperti FIFA ASEAN Cup. Gusnul menilai bahwa turnamen ini bukanlah ajang untuk mencoba-coba strategi baru, melainkan ajang untuk mematangkan taktik yang sudah ada.
"Saya melihat John Herdman masih terus bereksperimen di Piala AFF dan FIFA ASEAN Cup ini. Padahal, ini bukan waktunya untuk coba-coba lagi. Kita harus melihat negara tetangga seperti Singapura, Thailand, dan Vietnam yang tampil semakin solid dan mantap di turnamen ini. Saya khawatir mereka justru akan tampil lebih siap dan mengerikan di Piala Asia nanti jika Indonesia terus terjebak dalam eksperimen yang tidak berujung," pungkasnya.




