Kontroversi Kartu Merah Thom Haye

Author Image

Dewi Laksmi

30 September 2026, 04:39 WIB

portalbatang.id – Drama panas tersaji dalam laga krusial Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 yang mempertemukan Timnas Indonesia melawan Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta. Pertandingan yang seharusnya menjadi ajang pembuktian dominasi Garuda di Asia Tenggara justru diwarnai insiden kartu merah yang menimpa gelandang andalan, Thom Haye, pada menit ke-37.

Keputusan wasit asal Korea Selatan, Ko Hyung-Jin, yang mengusir Thom Haye dari lapangan hijau memicu berbagai reaksi. Meski Indonesia harus bermain dengan 10 orang dan akhirnya hanya mampu bermain imbang tanpa gol, mantan kapten Timnas Indonesia, Agung Setyabudi, memberikan pandangan mendalam mengenai insiden tersebut.

Kontroversi Kartu Merah Thom Haye
Gambar Istimewa : cdn1-production-images-kly.akamaized.net

Menurut Agung, hukuman kartu merah yang diterima Thom Haye memang merupakan keputusan yang tepat secara teknis. Hal ini dikarenakan tekel yang dilakukan Haye berasal dari arah belakang dan mengincar kaki lawan, sebuah tindakan yang dalam sepak bola modern dianggap sangat berisiko dan fatal.

"Secara objektif, itu memang layak mendapatkan kartu merah. Tekel dari belakang yang mengincar kaki lawan adalah pelanggaran berat," ujar Agung saat memberikan analisisnya.

Namun, Agung juga memberikan pembelaan secara situasional. Ia memahami bahwa dalam kecepatan permainan yang tinggi, pemain seringkali mengambil keputusan berdasarkan refleks untuk menghentikan pergerakan lawan. Ia menyoroti sosok Arif Aiman, pemain sayap Malaysia, sebagai pemicu situasi tersebut.

"Bisa jadi itu murni refleks untuk menghentikan bola. Kita harus akui, Arif Aiman adalah pemain yang sangat menonjol. Dia punya kepercayaan diri tinggi, lari yang sangat kencang, dan sangat lihai melewati lawan. Hal ini sering kali memancing emosi atau memaksa pemain lawan melakukan tindakan darurat untuk menghentikannya," tambah mantan pemain era 1993-2004 tersebut.

Insiden tersebut mengubah alur pertandingan yang awalnya dikuasai oleh Indonesia. Skuad Garuda yang tampil menyerang sejak awal laga terpaksa mengubah strategi menjadi lebih bertahan setelah kehilangan sosok pengatur serangan di lini tengah. Hasil imbang 0-0 ini membuat posisi Indonesia di klasemen Grup A tertahan di peringkat kedua dengan raihan empat poin, tertinggal satu angka dari Malaysia.

Menatap laga pamungkas melawan Bangladesh, Agung menekankan pentingnya mentalitas bertanding. Ia meminta para pemain, terutama para pemain diaspora, untuk menanggalkan segala label dan hanya fokus pada satu tujuan: membela kehormatan bangsa.

"Sudah saatnya kita berhenti membahas soal pemain diaspora atau naturalisasi. Mereka adalah bagian dari Indonesia. Yang dibutuhkan sekarang adalah rasa memiliki dan semangat juang yang lebih tinggi di lapangan," tegasnya.

Indonesia kini wajib meraih kemenangan telak saat menjamu Bangladesh di SUGBK pada Kamis (1/10/2026) mendatang demi menjaga peluang lolos ke babak final, sembari berharap Malaysia terpeleset saat menghadapi Singapura.

Related Post