portalbatang.id – Kekecewaan mendalam menyelimuti kubu PSS Sleman usai menelan kekalahan tipis 1-2 dari tuan rumah Persik Kediri dalam lanjutan pekan keenam BRI Super League musim 2026/2027. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Brawijaya, Kediri, pada Kamis (22/10/2026) sore itu menyisakan polemik panas terkait penggunaan teknologi Video Assistant Referee (VAR) yang dianggap merugikan tim berjuluk Super Elja tersebut.
Pelatih PSS Sleman, Pieter Huistra, tidak mampu menyembunyikan amarahnya setelah laga usai. Ia secara terbuka mengkritik keputusan wasit yang menganulir gol Gustavo Tocantins pada menit ke-63. Gol yang seharusnya menjadi penyelamat bagi PSS tersebut dibatalkan setelah pengecekan VAR, dengan alasan Riko Simanjuntak berada dalam posisi offside.

"Jika saya melihat tayangan ulang, saya tidak melihat adanya posisi offside. Saya rasa petugas VAR harus memiliki mata yang sangat tajam untuk memutuskan hal itu, karena keputusan ini sangat disayangkan," ujar Huistra dengan nada kecewa kepada awak media.
Also Read
Huistra menambahkan bahwa momen yang dianggap offside tersebut sebenarnya bukan merupakan umpan terakhir, melainkan bagian dari proses pembangunan serangan. Menurutnya, posisi pemain saat itu masih berada dalam garis yang sejajar sehingga tidak seharusnya dinyatakan melanggar aturan. Ia bahkan meminta agar ofisial pertandingan melakukan evaluasi mendalam atas insiden tersebut.
"Kami sangat tidak beruntung. Saya rasa petugas VAR perlu mengevaluasi diri mereka hari ini. Kami layak mendapatkan hasil yang lebih baik, setidaknya satu poin atau bahkan kemenangan, jika melihat performa tim di lapangan," tegasnya.
Meski demikian, Huistra tetap bersikap sportif dengan mengakui keunggulan Persik Kediri. Ia memuji permainan tim lawan yang tampil positif. Persik berhasil unggul melalui dua gol Ernesto Gomez, yakni melalui titik putih pada menit ke-7 dan gol terbuka pada menit ke-42. PSS sempat memperkecil ketertinggalan lewat aksi Melvyn Lorenzen di menit ke-31 sebelum akhirnya drama VAR merenggut momentum mereka.
Di sisi lain, penyerang PSS Sleman, Matheus Fornazari, mengakui bahwa kegagalan timnya tidak sepenuhnya disebabkan oleh faktor eksternal. Ia menyoroti adanya kesalahan individu di lini pertahanan yang menjadi celah bagi Persik untuk mencetak gol.
"Kami telah memainkan laga yang hebat, namun sepak bola memang kejam. Kesalahan individu di momen krusial membuat situasi menjadi sulit bagi kami. Kami sempat memiliki peluang untuk memimpin, namun hari ini belum menjadi rezeki kami," ungkap Matheus.
Kekalahan ini membuat posisi PSS Sleman semakin terpuruk di papan bawah klasemen sementara BRI Super League. Saat ini, mereka tertahan di peringkat ke-15 dengan raihan empat poin dari enam pertandingan. Tim ini tercatat baru mengemas satu kemenangan, satu hasil imbang, dan menderita empat kekalahan. PSS kini harus segera berbenah untuk mengamankan poin penuh pada laga kandang berikutnya demi menjaga asa di kompetisi musim ini.




