portalbatang.id – Geliat kompetisi sepak bola tanah air kembali memanas seiring dengan dimulainya turnamen I League Cup 2026/2027 pada Selasa (3/11/2026). Kehadiran turnamen ini menjadi pelengkap bagi kompetisi utama, yakni BRI Super League dan Pegadaian Championship. Namun, kembalinya format turnamen pendamping ini sekaligus membuka lembaran memori tentang panjangnya sejarah kompetisi antarklub di Indonesia.
Jika menilik ke belakang, Indonesia memiliki rekam jejak turnamen yang cukup dinamis. Mulai dari era semi-profesional melalui Piala Liga pada 1985, hingga era Piala Galatama. Pada masa itu, Arseto Solo sempat mencatatkan sejarah sebagai juara perdana sebelum akhirnya dominasi diambil alih oleh Krama Yudha Tiga Berlian pada akhir era 1980-an. Tak berhenti di situ, PSSI juga sempat menghadirkan Piala Galatama pada awal 1990-an yang mempertemukan tim-tim tangguh seperti Semen Padang dan Gelora Dewata.

Memasuki era milenium, wajah turnamen antarklub berubah total dengan lahirnya Copa Dji Sam Soe pada tahun 2005. Berbeda dengan pendahulunya yang terbatas pada kasta tertentu, turnamen ini menjadi ajang pembuktian bagi klub dari berbagai tingkatan kasta untuk saling beradu kekuatan. Arema Malang menjadi pemenang pertama dalam drama final melawan Persija Jakarta, sebelum akhirnya Sriwijaya FC muncul sebagai raksasa baru yang mendominasi dengan koleksi tiga gelar beruntun.
Also Read
Namun, perjalanan turnamen pendamping ini tidak selalu mulus. Sejarah mencatat bahwa dualisme organisasi di tubuh PSSI serta sanksi dari FIFA sempat membuat kalender kompetisi nasional menjadi tidak menentu. Hal ini menyebabkan turnamen antarklub sering kali absen dalam waktu yang cukup lama. Salah satu momen krusial adalah saat Piala Indonesia hanya diikuti oleh klub dari Indonesia Premier League (IPL) akibat situasi politik sepak bola saat itu, yang kemudian dimenangkan oleh Persibo Bojonegoro.
Piala Indonesia sendiri terakhir kali menyuguhkan drama pada musim 2018/2019, di mana PSM Makassar berhasil mengangkat trofi setelah menumbangkan Persija Jakarta lewat agregat 2-1. Sejak saat itu, pandemi COVID-19 dan berbagai kendala lainnya membuat turnamen ini seolah hilang dari peredaran.
Kini, melalui I League Cup, harapan baru muncul. Meski penyelenggara menegaskan bahwa turnamen ini bukan sekadar kelanjutan dari Piala Indonesia, melainkan sebuah konsep baru, semangatnya tetap sama: menambah jam terbang kompetisi. Menariknya, I League Cup menerapkan aturan khusus untuk membatasi pemain asing, yakni maksimal tiga pemain per klub, guna memberikan panggung lebih luas bagi talenta lokal Indonesia. Dengan format penyisihan grup yang melibatkan 38 klub, turnamen ini diprediksi akan menjadi ajang pembuktian kekuatan baru di sepak bola nasional hingga partai final pada Mei 2027 mendatang.




