portalbatang.id – Dunia sepak bola wanita tanah air tengah dikejutkan dengan dinamika internal yang terjadi di kubu Persija Jakarta Putri. Tak disangka, manajemen klub mengambil langkah drastis dengan memutuskan hubungan kerja dengan sang pelatih, Muhamad Yusup Prasetiyo. Keputusan ini muncul di tengah sorotan tajam sang pelatih terhadap performa pemain asing mereka, Christi-Anne K-Shanta Mills, yang dianggap belum memenuhi ekspektasi.
Langkah berani manajemen ini diambil setelah Persija Putri mencatatkan awal musim yang sangat mengecewakan di ajang Indonesia Women’s League musim 2026/2027. Tim yang diperkuat oleh Sabreena Dressler dan kawan-kawan ini belum mampu mengamankan satu kemenangan pun sejak kompetisi bergulir. Dari dua laga perdana yang telah dijalani, Persija hanya mampu mengemas satu hasil imbang dan satu kekalahan, yang membuat mereka terdampar di dasar klasemen sementara dengan raihan satu poin.

Manajemen Persija Putri memilih menggunakan diksi "mengistirahatkan" untuk menjelaskan status Muhamad Yusup Prasetiyo. Manajer Persija Putri, Diky Soemarno, menjelaskan bahwa dalam sebuah perjalanan tim profesional, tekanan dan kekecewaan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Ia menegaskan bahwa manajemen memiliki tanggung jawab besar untuk mengelola situasi tersebut agar mentalitas pemain tetap terjaga.
Also Read
"Tanggung jawab kami bersama adalah mengelolanya dengan baik, sehingga setiap pemain tetap merasa aman, dihargai, dan memiliki ruang untuk berkembang. Sebagai manajer, saya juga menyadari tanggung jawab untuk turut menjaga suasana yang positif dan kondusif," ungkap Diky Soemarno dalam keterangan resminya. Ia juga menambahkan bahwa klub berkomitmen menyelesaikan persoalan ini secara bijaksana dan tetap menghormati semua pihak yang terlibat.
Sebelum keputusan pemecatan ini keluar, Yusup Prasetiyo atau yang akrab disapa Yoyo, sempat melontarkan kritik pedas terhadap kualitas striker asing mereka, Christi-Anne K-Shanta Mills. Kritik tersebut muncul pasca kekalahan tipis 0-1 dari Persikad Depok Women. Yoyo mengungkapkan bahwa proses perekrutan pemain asing tersebut penuh dengan kendala, mulai dari masalah administrasi hingga cedera pemain pilihan lainnya.
Yoyo secara terbuka menyatakan bahwa kualitas Christi-Anne jauh di bawah standar yang diharapkan untuk membantu tim memenangkan pertandingan. Ia juga menyoroti adanya ketimpangan kualitas yang sangat mencolok di dalam skuad. Menurutnya, dari total 25 pemain yang dimiliki, hanya sekitar 14 hingga 15 pemain yang dianggap memiliki kemampuan mumpuni untuk bersaing, sementara sisanya dianggap memiliki kualitas yang jauh di bawah standar.
Kondisi kedalaman skuad yang tidak ideal inilah yang menjadi alasan utama kegagalan Persija Putri di awal musim. Kini, setelah pergantian nakhoda, publik sepak bola wanita menanti apakah perubahan ini mampu membawa Persija Putri keluar dari keterpurukan dan merangkak naik dari dasar klasemen.




