portalbatang.id – Persiapan matang dan terukur menjadi kunci utama yang dibawa oleh pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, dalam menghadapi skenario terburuk di partai final FIFA ASEAN Cup 2026. Menghadapi rival bebuyutan Thailand, Herdman tidak ingin menyerahkan nasib tim kepada keberuntungan semata, terutama jika pertandingan harus ditentukan melalui drama adu penalti yang penuh tekanan.
Dalam sebuah sesi wawancara mendalam, Herdman mengungkapkan bahwa penentuan siapa yang akan maju sebagai algojo penalti bukanlah sebuah keputusan spontan yang diambil di pinggir lapangan. Ada proses panjang, kriteria ketat, hingga simulasi psikologis yang dirancang sedemikian rupa untuk menguji mental para pemain.

"Kami melalui proses yang sangat terstruktur. Kriterianya jelas: kami melihat siapa yang rutin menjadi eksekutor di klubnya dan siapa yang sudah memiliki jam terbang tinggi saat membela Timnas Indonesia," tegas Herdman. Salah satu nama yang muncul dalam radar pertimbangan adalah bek tangguh Kevin Diks, yang dinilai memiliki ketenangan luar biasa saat menghadapi situasi krusial di level klub.
Also Read
Namun, teknis menendang bola hanyalah sebagian kecil dari persiapan tersebut. Herdman lebih fokus pada aspek mental. Ia menugaskan staf pelatih kiper sekaligus spesialis bola mati, Andy, untuk mengumpulkan data komprehensif mengenai kesiapan psikologis setiap pemain. Data ini kemudian dibedah bersama seluruh staf teknis sehari sebelum laga dimulai.
Untuk benar-benar menguji nyali para pemain, tim pelatih menciptakan simulasi latihan yang sangat tidak nyaman. Mereka tidak hanya berlatih menendang bola ke gawang kosong, melainkan menciptakan atmosfer mencekam yang menyerupai riuhnya Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).
"Kami mengerahkan sekitar 40 staf untuk berdiri di belakang gawang. Kami memutar musik dengan volume tinggi dan meminta mereka berteriak-teriak untuk menciptakan kebisingan yang ekstrem. Kami ingin mereka merasakan tekanan penonton," ungkap Herdman.
Dalam simulasi ini, pemain juga dihadapkan pada sistem eliminasi. Jika seorang pemain gagal dalam kesempatan pertama, mereka harus berjuang ekstra untuk membuktikan kembali kesiapan mereka melalui kesempatan tambahan. Hal ini bertujuan untuk menyaring siapa yang benar-benar memiliki ketenangan di bawah tekanan hebat.
Satu instruksi krusial yang ditekankan Herdman kepada para calon eksekutor adalah disiplin pada rencana awal. Ia melarang keras pemainnya mengubah arah tendangan secara mendadak hanya karena terdistraksi oleh gerakan penjaga gawang lawan. "Kuncinya adalah komitmen. Jangan melihat gerakan kiper lalu berubah pikiran di detik terakhir. Tetaplah pada rencana yang sudah disepakati," pesannya.
Herdman juga mengakui bahwa strategi pergantian pemain sering kali menjadi dilema. Terkadang, ia harus mempertahankan pemain kunci di lapangan meskipun pemain tersebut adalah eksekutor penalti terbaik, demi menjaga stabilitas permainan selama sisa waktu normal. Baginya, kemenangan adalah hasil dari keseimbangan antara strategi taktis di lapangan dan kesiapan menghadapi situasi paling kritis sekalipun.




