CIREBON, Portal Batang ID – Di tengah dinamika yang berkembang di tubuh Nahdlatul Ulama (NU), supremasi Syuriyah ditegaskan sebagai fondasi paling krusial untuk menjaga marwah dan arah perjuangan organisasi ulama terbesar di Indonesia ini.
Penegasan ini disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, Lc, MA, dalam menyikapi berbagai perkembangan yang terjadi di internal PBNU belakangan ini.
Menurut Kiai Imam, NU sejak awal didirikan sebagai organisasi ulama (jam’iyyah ulama). Dalam konteks ini, Syuriyah memegang otoritas tertinggi dalam hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan, kebijakan strategis, serta bimbingan moral organisasi.
"Syuriyah itu bukan sekadar struktur, melainkan mata air spiritual jam’iyyah. Tanpa supremasi Syuriyah yang kuat, NU bisa kehilangan arah dan marwahnya sebagai organisasi ulama," ujar Kiai Imam Jazuli dalam keterangannya, Sabtu (6/12/2025).
AD/ART Tegaskan Supremasi Syuriyah
Kiai Imam menekankan bahwa supremasi Syuriyah memiliki dasar yang kuat, tidak hanya secara moral, tetapi juga normatif. Ia merujuk pada Anggaran Dasar NU Pasal 14 ayat (3) dan sejumlah ketentuan dalam Peraturan Perkumpulan (Perkum) tahun 2025.
"AD/ART dan Perkum NU dengan tegas menempatkan Syuriyah sebagai pimpinan tertinggi organisasi. Rais Aam dan jajaran Syuriyah adalah pemegang kebijakan tertinggi yang harus dihormati seluruh struktur, termasuk Tanfidziyah," jelasnya.
Tugas Syuriyah, sebagaimana diatur dalam AD/ART Pasal 18 – meliputi pembinaan, pengawasan pelaksanaan keputusan organisasi, dan pemberian arahan dalam masalah keagamaan – menjadi kunci dalam menjaga kemurnian khittah NU.
Secara filosofis, Syuriyah merepresentasikan para kiai sepuh yang membawa kebijaksanaan, sementara Tanfidziyah adalah para aktivis pergerakan yang menjalankan roda organisasi.
"Aktivis Tanfidziyah itu penuh dinamika dan dorongan zaman, kadang tergesa-gesa. Di sinilah peran kiai Syuriyah sebagai ‘rem’. Mereka memastikan keputusan tidak kebablasan dan tetap dalam koridor syariat dan maslahat," tegasnya.
Analogi Pesantren: Syuriyah adalah Pengasuh
Untuk memperjelas hierarki kepemimpinan di NU, Kiai Imam Jazuli memberikan analogi pesantren.
"Dalam struktur pesantren, Syuriyah itu ibarat Pengasuh Pondok. Sedangkan Tanfidziyah adalah pengurus harian. Tanpa otoritas Kiai Pengasuh, pondok akan kehilangan visi, nilai, dan manhaj. Begitu pula NU," ungkapnya.
Kiai Imam mengingatkan bahwa kehormatan NU di mata masyarakat sangat bergantung pada wibawa para kiai sepuh yang duduk di Syuriyah. Oleh karena itu, segala bentuk pengabaian atau pelecehan terhadap otoritas Syuriyah berpotensi merusak citra dan integritas NU.
"Jika Syuriyah dilemahkan, maka NU akan berubah dari jam’iyyah ulama menjadi ormas biasa. Ini bahaya besar. Marwah ulama harus dijaga. Keputusan Syuriyah adalah keputusan para kiai yang wajib dihormati," tegasnya.
Kesatuan warga NU terhadap keputusan Syuriyah menjadi elemen fundamental untuk menjaga kewibawaan organisasi di mata publik dan pemerintah.
Kiai Imam Jazuli mengajak seluruh pengurus dan Nahdliyin untuk kembali meneguhkan komitmen terhadap Syuriyah sebagai pemegang otoritas moral tertinggi.
"Menjaga marwah Syuriyah adalah menjaga marwah NU itu sendiri. Ini kewajiban kolektif semua warga jam’iyyah, bukan hanya elite pengurus," pungkasnya.