Kapal Induk Super AS USS Gerald R Ford Ditarik dari Timur Tengah, Perbaikan Pasca-Insiden Kebakaran di Tengah Ancaman Iran
Jakarta – Kapal induk tercanggih dan terbesar milik Amerika Serikat, USS Gerald R Ford, yang selama tiga pekan terakhir aktif dalam operasi militer di Timur Tengah, kini telah ditarik mundur. Kapal bertenaga nuklir ini dijadwalkan menuju Teluk Souda, Kreta, Yunani, untuk menjalani perawatan dan perbaikan menyusul insiden kebakaran yang terjadi di area binatu kapal.

Penarikan ini sontak menjadi perhatian, mengingat USS Gerald R Ford merupakan aset strategis utama AS di tengah ketegangan yang memanas dengan Iran. Meskipun demikian, Angkatan Laut AS buru-buru menepis spekulasi bahwa insiden kebakaran tersebut berkaitan dengan eskalasi konflik di wilayah tersebut.
"Angkatan Laut AS menegaskan bahwa USS Ford tetap sepenuhnya mampu menjalankan misi operasionalnya," demikian keterangan resmi yang dirilis pada Selasa (24/3). Mereka menekankan bahwa kebakaran yang terjadi di area binatu tidak mempengaruhi kemampuan tempur kapal induk tersebut.
Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengindikasikan bahwa kapal induk tersebut tidak akan berlabuh lama di Yunani. Fokusnya adalah pada "penilaian yang efisien, perbaikan, dan pengisian ulang pasokan" agar kapal dapat segera kembali bertugas di garis depan.
USS Ford telah berada dalam penempatan yang panjang sejak Juni lalu. Awalnya dikerahkan ke perairan Karibia sebagai bagian dari penguatan militer di tengah ketegangan dengan Venezuela, kapal ini kemudian dialihkan ke Timur Tengah untuk mendukung operasi AS dan Israel melawan Iran. Menurut laporan USNI News, penempatan ini berpotensi memecahkan rekor sebagai yang terlama bagi kapal induk AS pasca-Perang Vietnam, jika terus bertugas hingga pertengahan April mendatang.
Ancaman Rudal Iran Mengintai
Penarikan USS Ford ini terjadi di tengah bayang-bayang ancaman serius dari Iran. Sebelumnya, Teheran melalui Angkatan Bersenjata Iran Khatam Al Anbiya, telah secara terbuka mengancam akan meluncurkan rudal ke kapal induk AS tersebut yang saat itu berlabuh di Laut Merah.
Juru bicara markas komando militer Khatam Al Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, menegaskan bahwa kehadiran USS Gerald Ford di Laut Merah merupakan ancaman langsung bagi keamanan Iran. "Oleh karena itu, pusat logistik dan layanan untuk kelompok serang USS Ford dianggap sebagai target," ujarnya, seperti dikutip dari Al Arabiya.
Kehadiran USS Ford di Laut Merah sendiri merupakan bagian integral dari Operation Epic Fury, misi dukungan logistik AS dan Israel dalam menghadapi Iran. Insiden kebakaran dan penarikan sementara ini, meskipun diklaim tidak terkait dengan konflik, tetap menambah dinamika kompleks di kawasan Timur Tengah yang sedang bergejolak.