Warna-Warni Pelepasan Haji: Tradisi Unik di Gili Ketapang dan Lombok
Indonesia, sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, kaya akan tradisi unik, termasuk dalam menyambut dan melepas calon jemaah haji. Dua pulau di Nusantara, Gili Ketapang di Probolinggo dan Lombok, memiliki cara istimewa yang sarat makna untuk mengantar para tamu Allah menuju Tanah Suci.

Arak-arakan Perahu Hias di Gili Ketapang
Di Pulau Gili Ketapang, Probolinggo, Jawa Timur, momen keberangkatan calon haji dirayakan dengan sebuah tradisi yang dikenal sebagai "Ngater Kajien". Ini bukan sekadar mengantar, melainkan sebuah arak-arakan menggunakan perahu-perahu yang dihias sedemikian rupa. Perahu-perahu ini menjadi simbol penghormatan dan doa restu dari keluarga serta seluruh warga pulau kepada para jemaah yang akan menunaikan rukun Islam kelima.
Pemandangan puluhan perahu hias yang beriringan di lautan lepas menjadi tontonan yang memukau sekaligus mengharukan. Tradisi ini tidak hanya menunjukkan kebersamaan warga, tetapi juga menjadi penanda penting bagi para calon haji bahwa mereka didukung penuh oleh komunitasnya dalam perjalanan spiritual yang agung ini.
Kekhusyukan Selakaran dan Zikir Zaman di Lombok
Sementara itu, di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, suasana menjelang keberangkatan calon haji diselimuti kekhusyukan dengan tradisi "Selakaran" dan "Zikir Zaman". Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada malam hari sebelum keberangkatan, di mana keluarga dan tetangga berkumpul untuk melantunkan puji-pujian kepada Allah SWT dan bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
"Selakaran" adalah pembacaan syair-syair Islami yang berisi doa dan harapan baik, sedangkan "Zikir Zaman" merupakan rangkaian zikir yang dibacakan secara bersama-sama. Kedua ritual ini bertujuan untuk memohon kelancaran perjalanan, keselamatan, dan kemabruran haji bagi para calon jemaah. Malam yang penuh doa dan harapan ini menjadi momen penguat spiritual bagi para calon haji sebelum mereka bertolak menuju Tanah Suci.
Keberadaan tradisi-tradisi seperti "Ngater Kajien" di Gili Ketapang dan "Selakaran" serta "Zikir Zaman" di Lombok menunjukkan betapa mendalamnya nilai-nilai spiritual dan kebersamaan dalam masyarakat Indonesia. Ini bukan hanya ritual keagamaan, melainkan juga perwujudan kearifan lokal yang memperkaya khazanah budaya bangsa dalam menyambut ibadah haji yang agung.
