Pidato Perpisahan Guardiola di Etihad Penuh Haru Biru dan Air Mata

Jakarta – Stadion Etihad menjadi saksi bisu momen perpisahan yang sarat emosi. Pep Guardiola, sosok arsitek di balik kesuksesan Manchester City, mengucapkan salam perpisahan dalam suasana haru biru yang membanjiri seluruh penjuru stadion pada Minggu (24/5). Air mata tak terbendung, baik dari sang pelatih maupun ribuan penggemar setia yang memadati markas The Citizens.

Setelah satu dekade mengukir sejarah dan dedikasi, Guardiola memutuskan untuk mengakhiri perjalanannya bersama Manchester City. Keputusan ini datang mengejutkan, mengingat ia masih terikat kontrak hingga tahun 2027. Perpisahan ini terjadi pasca pertandingan terakhir Premier League, di mana City harus mengakui keunggulan Aston Villa dengan skor 1-2.

Pidato Perpisahan Guardiola di Etihad Penuh Haru Biru dan Air Mata
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Usai peluit panjang dibunyikan, kesempatan diberikan kepada Guardiola untuk menyampaikan pesan terakhirnya kepada para suporter. Dengan suara bergetar dan raut wajah yang menunjukkan kegugupan, ia memulai pidatonya. "Saya sangat gugup saat ini. Mengapa kalian sangat mencintai saya? Mengapa kalian melakukan ini kepada saya?" ujarnya, dikutip dari Daily Mail, menyiratkan rasa tak percaya akan besarnya dukungan yang ia terima.

"Saya tidak pernah membayangkan betapa besarnya cinta ini. Merupakan suatu kehormatan yang luar biasa untuk menjadi pelatih kalian selama 10 tahun. Emosi yang luar biasa," lanjutnya, beberapa kali terdiam menahan tangis saat yel-yel namanya menggema.

Selama masa kepemimpinannya yang gemilang di kursi pelatih City, Guardiola telah mempersembahkan total 20 trofi bergengsi. Koleksi ini mencakup satu gelar Liga Champions yang diidam-idamkan dan enam trofi Premier League, sebuah catatan yang menjadikannya pelatih tersukses dalam sejarah klub berjuluk The Citizens tersebut.

Sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya yang tak terhingga, rencananya nama Guardiola akan diabadikan di salah satu sudut tribune Stadion Etihad. "Izinkan saya istirahat sejenak. Kemarin ayah saya berada di tribun, berusia 95 tahun. Mungkin dia tidak menyadarinya, tetapi saya menyadari dalam beberapa tahun ke depan, tribun yang terlihat sangat indah ini, akan ada nama keluarga saya di sana. Itu adalah kehormatan terbesar," ungkap Guardiola penuh haru, menyoroti kehadiran sang ayah di momen spesial tersebut.

Baginya, melatih Manchester City adalah puncak kehormatan dalam kariernya. Ia berharap, para penggemar The Sky Blues tidak akan sungkan untuk menyapa dan memeluknya jika suatu saat mereka berpapasan di mana pun. Musim terakhir Guardiola bersama City harus puas dengan posisi runner-up Liga Inggris 2025/2026, setelah kalah bersaing ketat dengan Arsenal yang berhasil keluar sebagai juara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *