Misteri Penembakan Brown: Mahasiswa Cerdas Pelaku, Akhir Tragis Bunuh Diri
Providence, AS – Perburuan terhadap pelaku penembakan brutal yang mengguncang Universitas Brown, Amerika Serikat, akhirnya berakhir dengan tragis. Claudio Neves Valente, seorang mahasiswa jurusan fisika yang dikenal ambisius di kampus Ivy League tersebut, ditemukan tewas bunuh diri setelah beberapa hari menjadi buronan polisi. Namun, kematiannya justru meninggalkan tabir misteri yang lebih dalam mengenai motif di balik aksi keji yang merenggut nyawa tiga orang.
Valente, pria berkebangsaan Portugal berusia 48 tahun, diidentifikasi sebagai individu di balik penembakan pada 13 Desember yang menewaskan dua mahasiswa, Ella Cook dan Mukhammad Aziz Umurzokov, serta seorang profesor ternama dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Nuno Loureiro.
Berdasarkan hasil autopsi yang dirilis Kantor Kepala Pemeriksa Medis pada Jumat (19/12), Valente dipastikan "meninggal dunia akibat luka tembak di kepala, dengan cara kematian bunuh diri". Diperkirakan, Valente mengakhiri hidupnya pada 16 Desember, hanya tiga hari setelah melancarkan serangan mematikan tersebut.
Pejabat federal juga mengumumkan hasil awal uji balistik dan DNA pada hari yang sama. Dua pucuk pistol kaliber 9 mm ditemukan bersama jasad Valente di New Hampshire. Salah satu senjata api tersebut "terbukti berkorelasi positif dengan senjata yang digunakan dalam penembakan massal di Brown University", sementara yang lainnya "terbukti berkorelasi positif dengan pembunuhan" Profesor Loureiro. Uji DNA cepat juga "secara awal mencocokkan Neves Valente dengan DNA yang ditemukan pada barang bukti di Brown University".
Motif yang Tak Terungkap
Hingga saat ini, pihak berwenang belum berhasil mengungkap motif di balik penembakan brutal ini. Valente dilaporkan tidak memiliki hubungan personal dengan para mahasiswa korban. Fakta ini semakin memperdalam teka-teki yang menyelimuti kasus tersebut.
Meskipun motif penembakan terhadap mahasiswa tetap menjadi misteri, ada petunjuk mengenai hubungan Valente dengan Profesor Loureiro. Media Portugal Expresso melaporkan bahwa Valente, yang berasal dari Torres Novas, Portugal, pernah menempuh pendidikan di Institut Superior Técnico (IST) di Lisbon pada periode yang sama dengan Loureiro. Keduanya adalah teman seangkatan, bahkan Valente dikenal sebagai mahasiswa terbaik pada angkatannya. Namun, berbeda dengan Loureiro yang tetap menjaga hubungan baik dengan para profesor IST, Valente tampaknya lebih tertutup dan kurang diingat oleh teman sekelasnya.
Penyelidikan Penuh Tantangan
Penyelidikan kasus ini sempat menemui jalan buntu pada hari-hari awal. Bahkan, Presiden Donald Trump sempat melayangkan kritik terhadap Universitas Brown karena dianggap tidak mampu mengintegrasikan sistem kamera keamanan kampusnya dengan kepolisian. Situasi semakin diperkeruh oleh maraknya misinformasi dan spekulasi liar di media sosial mengenai identitas pelaku, yang justru mempersulit kerja para penyidik.
Dengan kematian Valente, banyak pertanyaan krusial mengenai motif dan detail insiden tragis ini tampaknya akan terkubur bersamanya, meninggalkan duka mendalam dan teka-teki yang tak terpecahkan bagi komunitas Universitas Brown dan keluarga korban.