Di Tengah Tensi Memanas, Rusia Tegaskan Iran Belum Minta Bantuan Senjata
Jakarta – Moskow, melalui juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, secara tegas menyatakan bahwa Iran belum mengajukan permintaan bantuan pasokan senjata, meskipun Teheran tengah menghadapi gempuran intens dari Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi luas mengenai potensi keterlibatan Rusia dalam konflik tersebut, mengingat hubungan strategis yang erat antara kedua negara.

Menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan pengiriman persenjataan ke Iran, Peskov pada Kamis lalu menegaskan, "Dalam hal ini, tidak ada permintaan dari pihak Iran." Ia menambahkan bahwa posisi Moskow dalam isu ini "diketahui secara umum dan tidak ada perubahan." Kremlin juga menghormati pilihan Iran untuk tidak meminta bantuan persenjataan, seraya menegaskan bahwa kedekatan hubungan bilateral tidak akan goyah.
Rusia memang menjadi pusat perhatian sejak konflik di Timur Tengah pecah pada 28 Februari lalu, yang melibatkan Iran, AS, dan Israel. Hubungan keamanan dan pertahanan yang mendalam antara Moskow dan Teheran memicu banyak pihak bertanya-tanya apakah Rusia akan memberikan dukungan militer, termasuk pasokan senjata, di tengah tekanan yang dihadapi Iran.
Kemitraan strategis kedua negara telah terjalin kuat, puncaknya dengan kesepakatan 20 tahun yang diperbarui tahun lalu. Rusia berperan dalam pembangunan dua fasilitas nuklir baru di Bushehr, satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir di Iran. Sebagai imbalannya, Iran diketahui menyuplai Rusia dengan drone kamikaze jenis Shahed, yang digunakan Moskow dalam perangnya melawan Ukraina.
Namun, para pengamat geopolitik memiliki pandangan berbeda mengenai alasan di balik keputusan Rusia untuk tidak terlibat langsung membantu Iran. Matt Gerken, kepala ahli strategi geopolitik di BCA Research, berpendapat bahwa perang berkepanjangan di Ukraina telah mengikis kemampuan Rusia untuk memproyeksikan kekuatan di luar perbatasannya. Menurutnya, militer Rusia sudah terbebani oleh konflik di Ukraina, dan perekonomian negara itu terus-menerus di bawah tekanan sanksi Barat, yang secara signifikan mengurangi pengaruh Moskow di Timur Tengah.
Senada, Ellen Wald, Presiden Transversal Consulting, bahkan mengemukakan bahwa Rusia justru mungkin menyambut baik situasi di Timur Tengah. Perhatian dunia, termasuk Presiden AS saat itu, kini terfokus pada Iran, mengalihkan sorotan dari Putin dan perangnya di Ukraina.
"Putin jelas senang dengan situasi ini, menurut saya, meskipun setelah masalah ini terselesaikan, Trump pasti akan mengalihkan perhatian berikutnya ke Putin," kata Wald.
Dengan demikian, meskipun memiliki ikatan yang kuat, prioritas dan keterbatasan sumber daya Rusia saat ini tampaknya menjadi faktor penentu dalam sikapnya terhadap konflik di Timur Tengah. Pernyataan Kremlin menegaskan bahwa, setidaknya untuk saat ini, Iran memilih untuk tidak mengandalkan bantuan persenjataan dari sekutunya tersebut.