BNPB Ngebut! Ratusan Hunian Sementara Aceh Tamiang Siap Huni Kurang dari Sepekan
Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengambil langkah cepat untuk mengakselerasi pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak banjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh. Kepala BNPB, Suharyanto, secara tegas menginstruksikan agar proyek vital ini dapat rampung dalam kurun waktu kurang dari tujuh hari.

Percepatan ini menjadi prioritas utama mengingat kebutuhan mendesak para penyintas. Suharyanto mendesak pengembang untuk memastikan seluruh unit huntara di Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, segera dapat dihuni oleh masyarakat.
"Banyak penyintas yang sebelumnya menempati rumah sewaan. Begitu diterjang banjir, rumah yang mereka sewa hancur, membuat mereka kebingungan mencari tempat tinggal," jelas Suharyanto. Ia menambahkan, kelompok warga ini juga tidak memenuhi syarat untuk menerima bantuan dana tunggu hunian dari pemerintah karena tidak memiliki rumah pribadi. Oleh karena itu, pembangunan huntara menjadi solusi konkret yang diinisiasi BNPB.
Meskipun jumlah unit yang sedang dibangun belum dirinci secara pasti, Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera mencatat adanya usulan penambahan 97 unit huntara dari Bupati Aceh Tamiang.
Bantuan Stimulan dan Pemulihan Ekonomi
Selain fokus pada pembangunan huntara, pemerintah juga gencar menyalurkan bantuan stimulan untuk perbaikan rumah warga yang rusak akibat bencana. Safrizal Zakaria Ali, Kepala Pos Komando Wilayah Aceh Satgas PRR Pascabencana Sumatera, menyebut inisiatif ini sebagai upaya konkret untuk mempercepat pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat.
Total bantuan mencakup 2.336 rumah rusak ringan, 1.722 rumah rusak sedang, dan 1.889 rumah rusak berat. Distribusi bantuan dipusatkan di empat kecamatan terdampak paling parah, yaitu Rantau, Karang Baru, Bandar Pusaka, dan Bendahara, dengan Kecamatan Rantau menjadi wilayah penerima terbanyak.
Perbaikan Fasilitas Pendukung Dikebut
Di sisi lain, perbaikan fasilitas pendukung di area huntara juga tengah dikebut. Jalur pedestrian di Huntara Tamiang, yang sempat mengalami kerusakan akibat penggunaan yang tidak sesuai – yakni dilintasi kendaraan bermotor – kini sedang diperbaiki.
Hasil evaluasi lapangan terbaru menunjukkan bahwa jalur tersebut berpotensi mengalami kerusakan struktural akibat beban berlebih, mengingat jalur pedestrian secara teknis tidak dirancang untuk menahan beban kendaraan bermotor.
Sebagai tindak lanjut, telah dilakukan penataan ulang dan penguatan struktur, termasuk penambahan material dasar serta pengecoran ulang di beberapa titik krusial. Irwan, Project Manager Huntara Tamiang dari PT Nindya Karya, memastikan proses perbaikan berjalan cepat dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan.
"Kami memastikan perbaikan berjalan tepat agar fasilitas bisa segera digunakan kembali dengan aman dan sesuai peruntukannya oleh masyarakat," ujar Irwan. Perbaikan ini ditargetkan rampung dalam empat hari kerja. Selama proses berlangsung, pengelola juga terus mengingatkan masyarakat untuk menggunakan fasilitas sesuai peruntukannya demi menjaga keberlangsungan infrastruktur.
