Profesi Pendamping Naik Gunung, Naik Daun di Kalangan Gen Z China

Jakarta, CNN Indonesia – Di tengah gejolak ekonomi dan tekanan hidup yang kian kompleks, generasi muda di Tiongkok kini mengalihkan fokus pengeluaran mereka dari sekadar barang atau jasa fungsional. Mereka tak segan merogoh kocek demi pengalaman yang menawarkan nilai emosional, seperti kenyamanan, kebahagiaan, rasa ditemani, atau sekadar sentuhan makna dalam keseharian. Fenomena ini dikenal dengan istilah qing xu jia zhi, atau ‘nilai emosional’, sebuah konsep baru yang menjadi cerminan kecemasan sekaligus aspirasi Gen Z Tiongkok dalam mengelola finansial dan mencari kepuasan hidup.

Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Salah satu manifestasi paling nyata dari tren ini terlihat jelas di Gunung Tai, salah satu gunung paling sakral di Tiongkok yang terletak di Provinsi Shandong. Gunung setinggi 1.545 meter di atas permukaan laut ini, dengan lebih dari 7.500 anak tangga batunya, telah menjadi saksi bisu doa para kaisar selama ribuan tahun dan kini menjadi simbol ketahanan fisik serta mental.

Di sinilah kisah Xiao Meng, seorang pemuda berusia 24 tahun, menjadi sorotan. Dengan rekor lebih dari 200 kali pendakian, Xiao Meng bukan sekadar pemandu wisata biasa. Ia adalah seorang pei pa, atau ‘pendamping pendakian’, sebuah profesi yang jauh melampaui tugas menjelaskan sejarah atau rute. Perannya adalah memberikan dukungan komprehensif, baik secara fisik maupun emosional, kepada para kliennya.

Tugasnya mencakup beragam hal: dari menyediakan logistik seperti makanan dan minuman, membantu membawakan perlengkapan, hingga menjadi teman berbincang dan penyemangat saat klien mulai kelelahan. Bahkan, tak jarang ia harus menggendong pendaki yang sudah tak sanggup lagi melangkah.

"Selama klien memiliki keinginan untuk mendaki, kami memastikan mereka akan sampai di puncak," tegas Xiao Meng, seperti dikutip dari CNA.

Profesi yang digeluti Xiao Meng ini merupakan bagian integral dari ‘ekonomi emosional’ yang kini tengah menjamur di Tiongkok, di mana nilai sebuah produk atau jasa tidak lagi semata pada kegunaannya, melainkan pada perasaan yang ditawarkannya—mulai dari kegembiraan, kenyamanan, kebanggaan, hingga rasa kebersamaan.

Lulusan universitas olahraga ini memulai karier sebagai pei pa setahun lalu, mematok tarif sekitar 700 yuan (sekitar Rp1,5 juta) per hari. Dengan kebugaran fisiknya, Xiao Meng mampu menaklukkan puncak Gunung Tai hanya dalam waktu dua jam, jauh melampaui rata-rata pendaki yang butuh enam jam.

Meskipun pekerjaannya seringkali menguras energi, baik fisik maupun emosional, Xiao Meng menemukan kepuasan mendalam. "Ada momen ketika saya harus terus membangkitkan semangat klien yang sedang terpuruk, itu memang memeras tenaga. Namun, saat mereka berhasil mencapai puncak dan melihat kebahagiaan terpancar di wajah mereka, semua rasa lelah saya sirna," ungkapnya.

Permintaan akan jasa pendampingan semacam ini terus meroket. Xiao Meng bahkan pernah mengorganisir pendakian masif, melibatkan 24 pendamping untuk dua klien yang menginginkan suasana pendakian yang lebih meriah dan penuh kebersamaan. Kisah-kisah unik pun tak luput dari pengalamannya, seperti membawa buket bunga untuk membantu lamaran romantis di puncak gunung, atau membawa timbangan agar klien bisa memantau perubahan berat badan setelah menaklukkan medan terjal.

Kendati demikian, para pendamping pendakian ini tetap menjunjung tinggi profesionalisme. Mereka secara ketat menjaga batasan, umumnya menolak ajakan bersosialisasi di luar jam kerja, seperti minum bersama setelah pendakian usai. Profesi ini telah ‘naik daun’ secara drastis dalam beberapa tahun terakhir, menyebar ke berbagai penjuru Tiongkok. Kini, platform media sosial pun ramai dengan grup-grup khusus yang menjadi jembatan antara para pei pa dan calon klien mereka, menandai era baru dalam industri jasa yang berorientasi pada nilai emosional.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *