Terungkap Alasan 10 Klub Liga 2 Disanksi Poin

Author Image

Dewi Laksmi

12 September 2026, 14:39 WIB

portalbatang.id – Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, akhirnya buka suara terkait sanksi pengurangan poin yang menimpa sepuluh klub peserta Pegadaian Championship 2026/2027. Penjelasan ini disampaikan Ferry usai menghadiri pembukaan kompetisi di Stadion Jatidiri, Semarang, pada Jumat (11/9/2026), yang mempertemukan PSIS Semarang kontra PSPS Pekanbaru.

Sebanyak sepuluh tim dari Grup A dan Grup B harus memulai perjuangan mereka di kasta kedua sepak bola Indonesia dengan beban minus poin. Dari Grup A, PSIS Semarang, Persiraja Banda Aceh, Semen Padang, dan Sumsel United masing-masing dikurangi satu poin. Sementara itu, Persiku Kudus menerima sanksi yang lebih berat, yakni minus dua poin.

Terungkap Alasan 10 Klub Liga 2 Disanksi Poin
Gambar Istimewa : cdn1-production-images-kly.akamaized.net

Situasi serupa terjadi di Grup B. Kendal Tornado FC, Persela Lamongan, dan Persipura Jayapura juga harus rela kehilangan satu poin di awal musim. Paling parah, Persiba Balikpapan dan PSBS Biak menghadapi tantangan berat dengan pengurangan empat poin.

Ferry Paulus menjelaskan bahwa beragam alasan melatarbelakangi keputusan sanksi ini. "Ya, kan memang macam-macam. Selain yang lebih banyak itu sebenarnya di finansial, ya. Kemudian ada beberapa perpindahan homebase," ungkap Ferry. Ia menambahkan bahwa kegagalan memenuhi salah satu syarat lisensi klub menjadi faktor utama.

Lebih lanjut, Ferry merinci masalah homebase yang menjadi salah satu penyebab. "Homebase itu sebenarnya yang paling fundamental adalah homebase yang didaftarkan dan areanya, area mana yang katakan kalau Jabodetabek ya seputar itu," jelasnya. Ia mencontohkan, perpindahan dalam satu provinsi seperti Balikpapan dan Samarinda di Kalimantan Timur masih dalam koridor yang diizinkan. Namun, perpindahan yang melintasi provinsi, seperti dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, kerap menimbulkan masalah. "Tapi sebagian besar di Jawa Tengah justru hampir tidak ada yang masalah. Yang masalah justru yang jauh-jauh," imbuhnya.

Selain masalah poin, Ferry Paulus juga menanggapi penolakan Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) terhadap keikutsertaan PSBS Biak. APPI menuding PSBS masih menunggak gaji beberapa personelnya sejak dua musim terakhir, dengan total mencapai Rp2,2 miliar sesuai putusan NDRC Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Ferry menjelaskan perbedaan antara sanksi FIFA dan NDRC. "Sebenarnya banned FIFA itu lebih kepada yang bermasalah di dalam pemain asing. Kemudian di dalam directive-nya FIFA itu klub tersebut tidak boleh mendaftarkan pemain kecuali pemain-pemainnya yang masih terdaftar di kompetisi sebelumnya," terangnya.

Untuk kasus PSBS, Ferry menyebut bahwa ada hukuman dari NDRC, namun prosesnya masih berjalan. "Ada memang beberapa hukuman dari NDRC. Namun, NDRC ini kan ada banding, kemudian masih dalam proses negosiasi. Dan ada sebagian besar juga yang sudah dibayar," kata Ferry. Ia menegaskan bahwa I.League akan tetap mengizinkan klub berkompetisi selama masalah tersebut masih dalam koridor hukuman yang tidak melanggar aturan fundamental. "Jadi artinya buat I.League, semasa itu masih dalam koridor hukuman yang tidak melanggar, pasti kita izinkan," pungkasnya.

Related Post