Putin Mendesak Penghentian Segera Konflik Israel-AS vs Iran
Jakarta – Presiden Rusia Vladimir Putin secara tegas mendesak penghentian segera eskalasi konflik di sekitar Iran, mengajukan proposal penyelesaian cepat kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam percakapan telepon pada Senin (9/3).

Yuri Ushakov, ajudan kebijakan luar negeri Kremlin, mengungkapkan bahwa Putin mengemukakan sejumlah gagasan strategis untuk mengakhiri ketegangan di Iran melalui jalur politik dan diplomatik. Usulan tersebut mencakup kelanjutan dialog dengan para pemimpin negara-negara Teluk, Presiden Iran, serta kepala negara lainnya yang relevan. Dalam kesempatan yang sama, Trump turut menyampaikan analisisnya mengenai perkembangan operasi militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut.
"Izinkan saya mengatakan bahwa pertukaran ide yang sangat mendalam dan, tanpa diragukan lagi, konstruktif telah terjadi," ujar Ushakov, seperti dikutip dari laporan media.
Secara terpisah, Putin mengakui bahwa konflik yang melibatkan AS dan Israel di Iran telah menyulut krisis energi berskala global. Ia mengeluarkan peringatan keras bahwa pasokan minyak yang mengandalkan jalur vital Selat Hormuz terancam lumpuh total dalam sebulan ke depan. "Produksi sudah mulai menurun, dan fasilitas penyimpanan di wilayah tersebut dipenuhi minyak yang tidak dapat diangkut," kata Putin.
Menanggapi potensi krisis ini, Putin menegaskan kesiapan Rusia, sebagai eksportir minyak terbesar kedua di dunia dan pemegang cadangan gas alam terbesar, untuk kembali menjalin kemitraan dengan negara-negara Eropa. "Kami siap bekerja sama dengan Eropa. Tetapi kami membutuhkan beberapa sinyal dari mereka bahwa mereka siap dan bersedia bekerja sama dengan kami dan akan memastikan keberlanjutan dan stabilitas ini," imbuh Putin.
Selain isu Iran, Trump dan Putin juga membahas konflik di Ukraina. Putin mencatat bahwa kemenangan Rusia seharusnya mendorong para negosiator Kyiv untuk bergerak menuju penyelesaian damai.
Ushakov menegaskan bahwa seluruh pembicaraan antara kedua kepala negara tersebut memiliki bobot yang signifikan dan diperkirakan akan membawa "implikasi praktis bagi kelanjutan kerja sama bilateral antara kedua negara."