Trump Sangkal Keterlibatan AS, Ladang Gas Iran Jadi Medan Konflik Baru
JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara tegas membantah keterlibatan Washington dalam serangan militer Israel terhadap ladang gas raksasa South Pars di Iran. Klaim ini muncul di tengah tudingan Teheran yang menunjuk AS dan Israel sebagai dalang di balik insiden yang memicu kebakaran hebat tersebut.

Melalui platform media sosial Truth Social, Trump menulis, "Amerika Serikat tidak mengetahui apa pun tentang serangan khusus ini." Ia melanjutkan, "Qatar sama sekali tidak terlibat di dalamnya, dan juga tidak tahu bahwa serangan itu akan terjadi," menegaskan bahwa sekutu AS di Teluk juga tidak memiliki peran maupun informasi awal mengenai gempuran tersebut.
Pernyataan Trump ini kontras dengan klaim juru bicara militer Israel, Effie Defrin, yang sebelumnya menyebutkan adanya "koordinasi erat dengan militer AS di semua tingkatan" operasional. Defrin bahkan menekankan, "Tidak ada kesenjangan di antara kita, dan koordinasinya sangat baik," menyiratkan sinergi yang kuat antara kedua militer dalam setiap operasi.
Di sisi lain, Teheran telah melontarkan tuduhan serius, menuding "musuh Amerika-Zionis" sebagai pelaku serangan roket yang menghantam sebagian fasilitas gas di Zona Ekonomi Khusus Energi South Pars di Asaluyeh pada Rabu (18/3) waktu setempat. Serangan tersebut dilaporkan memicu kebakaran dan kerusakan signifikan pada infrastruktur vital Iran.
Ladang gas South Pars/North Dome merupakan salah satu cadangan gas terbesar di dunia dan sangat vital bagi Iran, memasok sekitar 70 persen kebutuhan gas alam domestik negara itu. Merespons insiden ini, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan keras. Mereka mengancam akan menghancurkan sektor energi negara-negara Teluk yang menjadi sekutu AS jika infrastruktur energi Iran kembali diserang.
Dalam pernyataan yang dimuat media Iran, IRGC menegaskan, "Kami memperingatkan Anda sekali lagi bahwa Anda telah melakukan kesalahan besar dengan menyerang infrastruktur energi Republik Islam, dan tanggapannya sedang dilaksanakan." Ancaman itu berlanjut, "Jika hal itu diulangi lagi, serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi Anda dan sekutu Anda tidak akan berhenti sampai benar-benar hancur, dan tanggapan kami akan jauh lebih keras daripada serangan malam ini." IRGC secara spesifik mengancam akan menargetkan infrastruktur minyak dan gas negara-negara seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Ancaman IRGC bukan sekadar gertakan. Pada hari yang sama, serangan rudal Iran dilaporkan menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas gas Ras Laffan di Qatar, memicu kecaman keras dari negara Teluk tersebut.
Eskalasi konflik ini segera berdampak pada pasar global. Pada Kamis (19/3) pagi, harga minyak dunia melonjak tajam. Minyak mentah jenis Brent crude oil naik menjadi US$112,00 per barel atau naik 4,27 persen, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 2,73 persen menjadi US$98,95. Ketegangan yang membara di Timur Tengah ini diprediksi akan terus memicu volatilitas di pasar energi global.
