Mentan Amran Sulaiman Peringatkan Bahaya Gula Rafinasi Impor: Petani Tercekik, Swasembada Terancam!
Jakarta, Portal Batang ID – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyuarakan keprihatinannya yang mendalam setelah menerima laporan dari para petani mengenai serbuan gula rafinasi impor yang membanjiri pasar konsumsi. Padahal, gula jenis ini seharusnya dialokasikan khusus untuk kebutuhan industri, bukan untuk konsumsi langsung masyarakat. Situasi ini dinilai sangat membahayakan stabilitas harga dan keberlangsungan hidup petani gula lokal.

Amran menjelaskan, kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa produksi gula nasional masih menunjukkan tren penurunan. Ironisnya, di tengah minimnya produksi, produk turunan gula seperti molase justru sulit terserap pasar dan harganya terus merosot. Mentan mencatat, harga molase anjlok signifikan, dari Rp1.980 per liter pada Februari 2025 menjadi sekitar Rp1.024 per liter pada Maret 2026.
"Produksi kita kurang, tapi molase gula tidak bisa laku. Di Jawa Timur itu terjadi di Oktober, tidak bisa laku. Ada anomali di situ," tegas Amran dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, pada Rabu (8/4).
Amran menegaskan bahwa masuknya gula rafinasi ke pasar konsumsi bukan sekadar "bocor" dalam jumlah kecil, melainkan sudah mencapai taraf "banjir". "Kalau bocor (jumlahnya) sedikit. Ini banjir," ujarnya. Laporan mengenai rembesan gula rafinasi ini diterima dari berbagai wilayah, termasuk Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan, di mana gula industri tersebut dijual bebas sebagai gula konsumsi.
Menurut Amran, fenomena ini dimungkinkan karena tingkat keputihan gula rafinasi impor memiliki standar International Commission for Uniform Methods of Sugar Analysis (ICUMSA) yang sangat mirip dengan gula putih produksi lokal. "Rembesannya kita ditangkap di Jawa Tengah, kemudian Kalimantan Selatan dan beberapa daerah lainnya. Gula rafinasi, tetapi dimasukkan ke pasar sebagai white sugar atau gula konsumsi. Ini membahayakan," imbuhnya, menekankan dampak serius bagi petani dan industri gula nasional.
Menyikapi kondisi kritis ini, Mentan Amran juga menyoroti kondisi tebu ratoon (tanaman tebu lama) yang sudah tidak layak produksi, mencapai 70 hingga 80 persen dari total lahan. Untuk mengatasi masalah ini, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan pembongkaran tebu ratoon seluas 300 ribu hektare dari total sekitar 500 ribu hektare tanaman lama.
Rencana revitalisasi ini akan dilaksanakan secara bertahap, yaitu sekitar 100 ribu hektare per tahun selama tiga tahun. Anggaran yang disiapkan untuk tahun 2025 mencapai Rp1,7 triliun. Melalui program ini, pemerintah menargetkan Indonesia dapat mencapai swasembada gula putih paling lambat pada tahun 2027.
Amran menambahkan, saat ini selisih antara produksi dan kebutuhan gula konsumsi nasional tinggal sekitar 200 ribu ton. Produksi gula berada di kisaran 2,6 juta hingga 2,7 juta ton, sementara konsumsi mencapai sekitar 2,8 juta hingga 2,9 juta ton per tahun. Dengan langkah-langkah strategis ini, diharapkan Indonesia mampu mengatasi defisit gula dan melindungi petani dari gempuran produk impor yang tidak semestinya.