Pakistan Segera Terima Dana Rp51,4 Triliun dari Arab Saudi, Perkuat Cadangan Devisa di Tengah Geopolitik Panas
Jakarta, Portal Batang ID – Pakistan akan segera menerima suntikan dana segar senilai US$3 miliar, atau setara Rp51,4 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.153 per dolar AS), dari Kerajaan Arab Saudi. Bantuan ini, yang diberikan dalam bentuk deposito, bertujuan utama untuk memperkuat cadangan devisa negara tersebut, demikian diumumkan oleh Kementerian Keuangan Pakistan.

Dalam pernyataan resminya, Kementerian Keuangan Pakistan mengungkapkan bahwa komitmen penempatan deposito tambahan sebesar US$3 miliar ini diharapkan dapat dicairkan pada pekan depan. Langkah ini menjadi krusial di tengah upaya Pakistan menjaga stabilitas ekonominya dan menghadapi tantangan finansial.
Pemberian dana ini datang di tengah dinamika regional yang menarik, terutama setelah Pakistan diketahui tengah mengembalikan miliaran dolar pinjaman kepada Uni Emirat Arab (UEA), yang kerap dianggap sebagai rival Riyadh. Lebih lanjut, Menteri Keuangan Pakistan, Muhammad Aurangzeb, mengonfirmasi bahwa deposito Arab Saudi senilai US$5 miliar yang sudah ada sebelumnya juga akan diperpanjang untuk jangka waktu yang belum ditentukan, menunjukkan komitmen jangka panjang Saudi terhadap Pakistan.
Di sisi lain, bantuan finansial ini juga bertepatan dengan kunjungan penting Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, ke Arab Saudi. Sharif tiba di Riyadh untuk tur empat hari, yang juga akan membawanya ke Qatar dan Turki. Kunjungan ini berlangsung menjelang kemungkinan putaran kedua perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sebuah isu yang diperkirakan akan menjadi topik utama pembicaraannya dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS), penguasa de facto Arab Saudi.
Kunjungan Sharif dan bantuan Saudi ini tak lepas dari latar belakang perundingan tingkat tinggi antara Washington dan Teheran yang baru saja digelar di Islamabad akhir pekan lalu. Pembicaraan tersebut merupakan yang pertama dalam beberapa dekade, menyusul konflik yang memanas setelah agresi AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Iran, sebagai balasan, menargetkan sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi dan Qatar, serta memblokir ekspor energi, yang memicu lonjakan harga minyak global.
Meskipun perundingan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan konkret untuk mengakhiri konflik, Presiden AS Donald Trump pada Selasa lalu mengisyaratkan bahwa negosiasi dapat dilanjutkan kembali pekan ini, kemungkinan besar di Pakistan. Situasi ini menempatkan Pakistan dalam posisi strategis sebagai tuan rumah dan fasilitator dialog di tengah ketegangan geopolitik global.