Tegaldlimo, Banyuwangi – Lapangan Tegaldlimo bergemuruh oleh tawa dan tepuk tangan meriah pada Jumat malam (21/11/2025) saat Campursari Cak Percil Cs naik panggung. Ratusan warga tumpah ruah menikmati perpaduan unik antara alunan gamelan tradisional, sentuhan musik modern, dan celotehan khas Cak Percil yang mengocok perut.
Pagelaran istimewa ini merupakan hasil kolaborasi antara UPT Taman Budaya Jawa Timur (TBJ) di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim dengan DPRD Provinsi Jatim. Acara ini menjadi bagian dari Festival Gebyar Musik Daerah 2025, sebuah agenda budaya tahunan yang dinanti-nantikan di Banyuwangi. Bagi warga Tegaldlimo, pertunjukan ini menjadi suguhan spesial di tengah semarak festival.

Dokter Agung Mulyono, Ketua Fraksi Demokrat DPRD Jatim, hadir langsung untuk memberikan apresiasi atas terselenggaranya acara tersebut. Menurutnya, campursari bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarana penting untuk menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. "Kita harus terus melestarikan budaya daerah di tengah derasnya arus teknologi modern. Ini penting agar identitas bangsa tetap terjaga, terutama bagi generasi penerus," ujarnya di hadapan ratusan penonton.
Anggota DPRD Jatim tiga periode itu juga menyampaikan harapan besar untuk kebangkitan kembali para pelaku seni setelah masa sulit pandemi. "Saya berharap dapat mendorong teman-teman seniman, memberikan stimulus, dan menghidupkan kembali ruang seni karena sejak pandemi Covid, kita belum sepenuhnya pulih," ungkapnya. Ia menekankan bahwa acara ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari upaya bersama untuk membangkitkan ekonomi UMKM dan seniman lokal.
Menurutnya, pertunjukan seni seperti campursari memiliki dampak ekonomi yang nyata. Para pedagang kecil, pelaku UMKM, dan kelompok seni mendapatkan kesempatan untuk bangkit kembali setelah terpuruk akibat pandemi. "Tujuan acara malam ini adalah untuk mendorong, mengajak, dan menghidupkan UMKM serta para seniman," tambahnya.
Selain membahas dunia seni, dr. Agung juga menyoroti masalah infrastruktur jalan provinsi yang menjadi salah satu fokus perjuangannya di DPRD Jatim. Ia memastikan bahwa perbaikan jalan-jalan utama di Banyuwangi terus diperjuangkan. "Saya berjuang agar jalan provinsi semakin mulus, mulai dari Benculuk sampai Grajakan, hingga Jajag sampai Pesanggaran," paparnya.
Ia juga memberikan contoh konkret tentang respons cepat terhadap kerusakan jalan di daerah. Masyarakat tidak perlu khawatir jika menemukan jalan provinsi yang rusak. "Jika ada kerusakan, misalnya di Tegal Dlimo, bisa lapor ke Pak Lurah dan akan segera diperbaiki. Insya Allah, jika lapor Senin, Rabu sudah beres. GPL: gak pakai lama!" tegasnya. Ia menyebut ini sebagai bukti nyata manfaat memiliki wakil rakyat yang memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Anggota DPRD Jatim Dapil Banyuwangi-Bondowoso-Situbondo itu menegaskan bahwa campursari memiliki kekuatan besar sebagai pemersatu masyarakat. "Campursari mempersatukan pelaku dan penikmat seni. Di sana ada rasa guyub, rukun, dan kebersamaan yang memperkuat karakter bangsa. Karena itu, melestarikannya adalah kewajiban kita bersama," ungkapnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada perangkat daerah dan seluruh masyarakat Tegaldlimo yang turut menjaga kelestarian budaya daerah.
Ia menambahkan bahwa pelestarian budaya tidak akan berhasil tanpa kolaborasi dari berbagai pihak. Acara malam itu menjadi contoh bagaimana pemerintah, seniman, dan masyarakat dapat bersatu untuk menjaga warisan leluhur. "Semoga Tuhan membimbing kita untuk mewujudkan hari esok yang lebih baik dan Jawa Timur yang semakin makmur," tutupnya.
Dalam acara tersebut, dr. Agung juga memberikan bingkisan kepada sepuluh seniman dan pelaku UMKM di Banyuwangi sebagai bentuk apresiasi. "Kita kemarin juga mengajukan bantuan rombong kepada Pemprov Jatim, dan Insya Allah akan diberikan pada tahun depan," kata dr. Agung.
Selain dr. Agung, acara tersebut juga dihadiri oleh pejabat UPT Taman Budaya Jatim, perwakilan Pemkab Banyuwangi, Forkopimcam Tegaldlimo, para kepala desa, seniman, budayawan, dan tokoh masyarakat. Pertunjukan yang berlangsung hingga larut malam itu tidak hanya menyajikan hiburan yang memukau, tetapi juga menegaskan komitmen bersama untuk merawat kekayaan budaya Banyuwangi dan Jawa Timur agar tetap lestari. Informasi ini dilansir dari Portal Batang ID.
