Jakarta – Putra mendiang Shah Iran, Reza Pahlavi, langsung angkat bicara menyusul laporan media Iran mengenai kabar kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Khamenei dikabarkan tewas dalam serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada Sabtu (28/2). Dalam pernyataannya, Pahlavi menegaskan bahwa era Republik Islam Iran, yang menggantikan rezim pro-Barat ayahnya, telah berakhir.
Melalui akun media sosial X miliknya, Pahlavi dengan tegas menyatakan, "Dengan kematiannya, Republik Islam secara efektif telah berakhir dan segera dibuang ke tempat sampah sejarah." Ia juga mengeluarkan peringatan keras agar tidak ada upaya penunjukan pengganti Khamenei, serta mendesak aparat keamanan untuk tidak lagi mempertahankan pemerintahan yang ada.

"Kepada militer, aparat keamanan, dan kepolisian, segala upaya untuk menopang rezim yang runtuh akan berujung pada kekalahan," tambah Pahlavi.
Tidak hanya itu, Pahlavi turut menyerukan kewaspadaan kepada seluruh warga Iran. Ia menandaskan, "Waktunya untuk kehadiran besar dan menentukan di jalanan sudah sangat dekat." Seruan persatuan nasional juga digaungkan, dengan menyinggung warisan pra-Islam Iran. Pahlavi menyerukan, "Bersama-sama, bersatu dan teguh, kita akan mengamankan kemenangan terakhir dan merayakan kebebasan Iran di seluruh Tanah Air kita yang diciptakan oleh Ahura," merujuk pada warisan Zoroaster pra-Islam.
Sebagai informasi, Reza Pahlavi adalah putra dari Mohammad Reza Pahlavi, Shah Iran terakhir yang digulingkan dalam Revolusi Iran 1979. Selama ini, ia memposisikan diri sebagai figur transisi, meskipun belum sepenuhnya mendapat dukungan dari semua kelompok oposisi.
Dalam sebuah artikel opini yang dimuat di The Washington Post, Pahlavi bahkan menyampaikan apresiasi kepada mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, atas serangan tersebut, seraya kembali menyatakan kesiapannya untuk memimpin masa transisi menuju Iran yang baru. Namun, ia menegaskan bahwa perannya hanya bersifat sementara, di tengah kekhawatiran sebagian pihak bahwa ia mungkin ingin mengembalikan bentuk monarki absolut seperti era ayahnya.
"Banyak warga Iran, sering kali meski menghadapi peluru, telah meminta saya memimpin transisi ini. Saya kagum atas keberanian mereka dan saya menjawab panggilan tersebut," tulis Pahlavi.
Menurut Pahlavi, jalur menuju masa depan Iran akan dilakukan secara transparan, dimulai dengan penyusunan konstitusi baru yang akan diratifikasi melalui referendum, dilanjutkan dengan pemilihan umum bebas di bawah pengawasan internasional. "Ketika rakyat Iran memberikan suara, pemerintahan transisi akan dibubarkan," tambahnya.
Pahlavi juga mengklaim bahwa berbagai kelompok oposisi Iran telah mencapai kesepakatan mengenai prinsip-prinsip utama, termasuk pemisahan agama dan negara, menjaga keutuhan wilayah Iran yang memiliki komunitas minoritas, serta menjamin kebebasan individu dan kesetaraan seluruh warga negara.