Surabaya, Portal Batang ID – Sri Wahyuni, Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, membawa angin segar perubahan di sektor kesehatan. Pengalaman 25 tahun sebagai perawat menjadi modal berharga baginya dalam merumuskan kebijakan yang berpihak pada masyarakat.
Yuni, sapaan akrabnya, memahami betul seluk-beluk dunia kesehatan. Antrean panjang, rumitnya proses rujukan, hingga keterbatasan fasilitas di daerah terpencil menjadi perhatian utamanya. "Dunia keperawatan mengajarkan saya arti pelayanan dan empati. Dua hal itu yang ingin saya bawa dalam setiap kebijakan di DPRD," ungkapnya.

Komitmennya bukan sekadar janji. Yuni terjun langsung mendampingi operasi seorang balita asal Bojonegoro yang menderita Atresia Ani. Ia memastikan proses medis berjalan lancar dan balita tersebut mendapatkan perawatan terbaik. "Menjadi wakil rakyat berarti hadir secara nyata di tengah masyarakat," tegasnya.
Sebagai mantan tenaga kesehatan, Yuni tak lupa memperjuangkan kesejahteraan para perawat, terutama perawat honorer dan perawat desa. Ia mendesak peningkatan kesejahteraan yang sepadan dengan beban kerja mereka. "Tenaga kesehatan adalah garda terdepan pelayanan publik. Mereka harus diperhatikan," ujarnya.
Salah satu gagasan briliannya adalah program "Satu Desa Satu Perawat". Dengan 7.721 desa di Jawa Timur, kehadiran perawat di setiap desa diyakini dapat meningkatkan akses layanan kesehatan, deteksi dini penyakit, dan edukasi kesehatan langsung kepada masyarakat. "Perawat desa bukan hanya penyembuh, tapi juga pendamping masyarakat agar hidup lebih sehat," jelasnya.
Selain kesehatan, Yuni juga aktif mengawal program-program kesejahteraan sosial, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia memastikan implementasinya tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. "Program yang bagus harus dikawal agar tepat sasaran. Karena yang kita perjuangkan bukan sekadar angka, tapi kehidupan masyarakat yang lebih baik," pungkasnya.
Dengan rekam jejak panjangnya, Sri Wahyuni menjadi motor penggerak transformasi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur. Kebijakan yang ia usung berlandaskan empati, pengalaman, dan komitmen pelayanan publik.
