Jakarta, Portal Batang ID – Wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto, kembali mencuat. Kali ini, Forum Silaturahmi Pemuda Islam (FSPI) melalui Koordinator Presidiumnya, Zuhelmi, menyatakan dukungannya. Menurutnya, jasa dan kontribusi Soeharto dalam menjaga keutuhan serta stabilitas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bisa dipungkiri.
Zuhelmi menilai kepemimpinan Soeharto pasca tragedi G30S/PKI menjadi titik krusial dalam menyelamatkan bangsa dari ancaman perpecahan. Langkah-langkah yang diambil Soeharto kala itu dinilai berhasil memulihkan keamanan nasional dan menata kembali arah pembangunan Indonesia.

"Soeharto berhasil membawa Indonesia keluar dari masa kekacauan menuju stabilitas nasional. Pembangunan ekonomi, pertanian, dan infrastruktur di bawah kepemimpinannya menjadi fondasi kuat bagi kemajuan bangsa," ujar Zuhelmi dalam keterangan tertulisnya.
Menurutnya, pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto memiliki urgensi historis dan moral. "Kita harus menempatkan sejarah secara adil. Soeharto adalah tokoh yang berjasa besar membangun Indonesia modern. Penghargaan ini menjadi refleksi untuk menghargai jasa pemimpin yang memberi dampak besar bagi bangsa," jelasnya.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, serta Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2010 mengatur tentang penganugerahan gelar Pahlawan Nasional. Gelar ini diberikan kepada WNI yang semasa hidupnya berjasa luar biasa bagi bangsa dan negara, serta tidak pernah melakukan tindakan yang mencederai keutuhan NKRI.
Zuhelmi menyoroti sejumlah capaian penting di masa pemerintahan Soeharto, seperti program Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang berhasil menurunkan angka kemiskinan secara signifikan, Instruksi Presiden Desa Tertinggal (IDT) yang memperkuat ekonomi perdesaan, hingga program swasembada pangan yang diakui FAO pada tahun 1984.
"Program Repelita dan IDT memperkuat pemerataan pembangunan. Penguatan Puskesmas dan pendidikan dasar meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Itu semua bagian dari legacy Soeharto yang masih dirasakan manfaatnya," ungkapnya.
FSPI juga menyoroti ketegasan Soeharto dalam menumpas gerakan PKI sebagai langkah strategis untuk menjaga kedaulatan negara. Meskipun diakui terdapat kontroversi dalam pelaksanaannya, Zuhelmi menegaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan dalam konteks penyelamatan bangsa dari ancaman ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.
Ia berharap penganugerahan gelar pahlawan nasional bagi Soeharto dapat menjadi momentum refleksi dan keteladanan bagi masyarakat. "Yang perlu diteladani adalah disiplin, kerja keras, dan komitmen beliau terhadap bangsa. Semoga gelar ini menjadi pengingat bahwa membangun negara membutuhkan keteguhan dan semangat pengabdian," pungkasnya.
